Rabu, 13 Desember 2017

Dagelan

Dagelan   

Memperkarakan orang yang satu ini ternyata benar-benar sebuah lelucon. Sebuah dagelan. Sebelum dia ditangkap petugas telah terjadi beberapa adegan konyol. Adegan sinetron film kartun, yang tidak untuk dipercayai namun terjadi. Ada acara dia kecelakaan karena mobil yang ditumpanginya menabrak tiang listrik. Berita tabrakan ini saja sudah merupakan sebuah adegan yang menarik untuk ditonton meski tidak menarik untuk dipercayai.

Konon beliau cedera parah akibat kecelakaan itu dan langsung dibawa ke rumah sakit. Maka berbicaralah penasihat hukumnya dengan bahasa gaya sinetron doraemon lagi. Bahwa beliau cedera parah. Ada luka, ada memar ada benjol sebesar...... ah malas kita mengulangi kata-kata sakti ini. Sedemikian parahnya, kata juru bicara yang sangat mengagumkan ini, hampir-hampir saja beliau itu lewat dalam kecelakaan tadi. 

Dasar cerita doraemon, keesokan harinya dokter dari rumah sakit lain yang datang memeriksa menemukan beliau dalam keadaan sehat-sehat, segar bugar. Tidak ada itu yang namanya luka, memar, benjol dan sebagainya. Singkat cerita, beliaupun digelandanglah. Dipakaikan baju seragam khusus berwarna oranye. Apa boleh buat.  

Proses hukum dilanjutkan. Beliau dihadapkan ke muka majelis hakim dalam sebuah pengadilan resmi. Ditonton oleh banyak penonton. Dan ada pula yang membuat rekaman video. Ini bagian lain dari dagelan itu. Hakim bertanya berkali-kali, sekedar menanyakan identitas beliau. Menanyakan apakah beliau yang bernama....... Apa reaksinya? Dia membisu sepuluh ribu bahasa.  Tidak menjawab sepatah katapun. Sakitkah dia? Apakah kalau sakit yang masih bisa didudukkan di ruang sidang seseorang tiba-tiba bisa tidak pandai berbicara? Itulah bagian lain dari dagelan.

Konon malam sebelumnya, di kamar tahanan beliau mencret sampai dua puluh kali. Tapi dibantah oleh petugas keamanan rumah tahanan. Beliau hanya dua kali masuk ke peturasan sepanjang malam. Dan tidur nyenyak sejak jam delapan malam. 

Lalu ada tiga orang dokter yang memeriksa kesehatannya sebelum dibawa ke ruang sidang, dan ketiga dokter itu menyatakan bahwa dia sehat-sehat saja. Jadi ada apa ini sebenarnya? Tidak ada apa-apa, beliau hanya seorang pemain sandiwara.

****                 

Minggu, 10 Desember 2017

Cucu Di Rumah Orang

Cucu Di Rumah Orang   

Ketika kita beranjak tua, bertemu dengan teman-teman yang sudah berpisah puluhan tahun, salah satu pertanyaan yang cukup umum ditanyakan adalah sudah berapa orang cucu. Dan tentu saja setelah itu dilanjutkan dengan kebahagiaan mempunyai cucu (-cucu) tersebut. Yang agak menyentak ketika aku menanyakan hal yang sama kepada seorang teman wanita (urang awak) adalah jawaban tambahannya. Cucunya empat orang, tapi hanya satu orang cucu di rumah awak..... Orang bukan Minang tidak akan langsung mengerti maksudnya. Dan orang Minang seumurku (66 tahun) mungkin juga banyak yang tidak faham.

Jawaban seperti itu umum di kalangan orang-orang tua kami. Cucu-cucu itu dibagi menjadi cucu di rumah awak dan cucu di rumah urang. Cucu di rumah awak artinya cucu melalui anak perempuannya. Karena orang Minang yang matriakhat itu diikat melalui jalur ibu. Di rumah gadang tinggal nenek (ibu dari ibu) saudara-saudara perempuan ibu dan anak-anak perempuan mereka bersama-sama. Maka cucu melalui anak perempuan juga akan jadi penghuni rumah gadang. Itulah cucu di rumah awak. Sementara anak laki, ketika dia menikah, dia pergi kerumah istrinya. Ketika istrinya melahirkan anak-anak, anak-anak itu jadi cucu di rumah orang bagi ibu dari anak laki-laki. 

Tapi sekarang sudah jarang keluarga besar Minang berkumpul di rumah gadang. Anak-anak mereka sudah pergi merantau. Membangun rumah tangganya di rantau orang. Pulang ke kampung sekali semasa. Baik cucu di rumah orang ataupun cucu di rumah awak, ketika pulang berlibur ke kampung dia tinggal sebentar di rumah gadang. Sudah tidak kentara perbedaan antara cucu melalui anak perempuan dan anak laki-laki. Makanya aku agak terkesiap ketika mendengar penjelasan teman sebayaku tentang cucu di rumah awak dan cucu di rumah orang, yang padahal tidak ada di antara cucu-cucunya itu yang tinggal permanen dengannya. 

Cucu akan tetap saja cucu. Apakah yang melalui anak laki-laki atau melalui anak perempuan. Mereka akan sama-sama memanggil kita kakek / nenek. Dan yang seharusnya kita kasihi dengan kasih sayang yang sama. 

****                    

Jumat, 08 Desember 2017

Mengomel

Mengomel     


Siapa yang tidak pernah mengomel? Mengeluarkan kata-kata umpatan atau penyesalan dikarenakan rasa kecewa atas sesuatu? Meski tidak semua orang suka mengomel. Yang jadi sasaran omelan biasanya adalah orang yang status sosialnya di bawah si pengomel. Atau paling tidak si pengomel merasa bahwa dia lebih gagah dari yang diomeli. 


Kebiasaan mengomel sepertinya juga disebabkan masalah kejiwaan seseorang. Dia merasa bahwa dirinya sempurna dan orang lain selalu punya cacat. Nah cacat orang lain itu yang diomelinya. Seorang sekretaris di kantor minta tolong membelikan makan siang ke pesuruh kantor. Sang pesuruh datang terlambat karena di tempat membeli makanan dia harus antri. Begitu datang menyerahkan bungkusan makan siang bukannya dapat ucapan terima kasih malahan diomeli. Karena kelamaan. Nyata sekali bahwa sekretaris ini  termasuk golongan yang tidak pandai berterimakasih.

Ada nyonya rumah yang juga sangat suka mengomel. Yang sering jadi sasaran omelan biasanya adalah pembantu. Ketika pembantu membuat kesalahan biar sekecil apapun maka dia akan diomeli. Padahal si pembantu sudah bekerja maksimal sebatas kemampuannya. Kalau ada yang kurang beres dari apa yang dikerjakannya kan seharusnya disadari bahwa dia memang seorang 'pembantu'. 

Ada lagi kebiasaan mengomel yang lebih parah. Ketika si pengomel melampiaskan kekesalannya atas kesalahan seseorang yang disampaikannya kepada orang lain yang tidak ada sangkut-pautnya. Si A kesal karena merasa dikecewakan dan dirugikan oleh si B. Lalu dia mengomel panjang pendek tentang kekesalannya itu kepada si C yang kebetulan berada di dekatnya. Sementara si B sendiri tidak ada di sana. Ketika si C menasihati agar menahan omelan kekesalannya, si A malah mengomeli si C dan mengatakan bahwa dia membela si B. 

Bagi yang suka mengomel sebenarnya mereka harus menyadari bahwa omelan tidak akan pernah membantu menyelesaikan masalah. Jika bawahan anda membuat kekeliruan, jauh lebih bijak untuk mengajarinya, menunjukkan bagaimana seharusnya dia berbuat agar tidak salah, ketimbang memarahi dan mengomelinya.    

****             

Rabu, 29 November 2017

Meskipun Engkau Lari Rezeki Tetap Mengejarmu

Meskipun Engkau Lari Rezeki Tetap Mengejarmu 


(Dari kiriman teman di WA, tidak disebutkan siapa penulisnya)

Kalaulah rezeki itu diukur dari hasil kerja keras, maka kuli bangunanlah yang  akan cepat kaya. Jika rezeki itu ditentukan dari lamanya waktu kerja maka warung kopi 24 jam lah yang akan lebih banyak mendapatkannya. Jika rezeki itu milik orang pintar saja maka dosen yang bergelar panjang yang akan lebih kaya. Jika rezeki itu datangnya karena jabatan atau pangkat tinggi maka presiden dan rajalah orang yg akan menduduki 100 orang terkaya di dunia.
Rezeki itu karena kasih sayang Allah.
'Ketika mencari rezeki jangan mengejar jumlahnya.... Tetapi carilah berkahnya " ( Ali bin Abi Thalib )_

Meskipun Engkau Lari Rezeki Tetap Mengejarmu.

'Kalaulah anak Adam lari dari rezekinya (untuk menjalankan perintah Allah) sebagaimana ia lari dari kematian, niscaya rezekinya akan mengejarnya sebagaimana kematian itu akan mengejarnya.' (HR Ibnu Hibban)

Miskin kaya sudah ada yang mengaturnya.

Abdurrahman bin Auf radhiyallahu anhu selalu gagal jadi orang miskin.

Jika tiba-tiba kondisi ekonomi "down", saya selalu terhibur mengingat kisah bisnis Abdurrahman bin Auf, tentang investasinya membeli kurma busuk.
Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berkata, Abdurrahman bin Auf  akan masuk surga terakhir karena terlalu kaya. Ini karena orang yang paling kaya akan dihisab paling lama.
Maka mendengar ini, Abdul Rahman bin Auf  pun berfikir keras, bagaimana agar bisa kembali menjadi miskin supaya dapat masuk surga lebih awal. Setelah Perang Tabuk, kurma di Madinah yang ditinggalkan sahabat menjadi busuk. Lalu harganya jatuh.
Abdurrahman bin Auf pun menjual semua hartanya, kemudian memborong semua kurma busuk milik sahabat tadi dengan harga kurma bagus.
Semuanya bersyukur. Alhamdulillah... kurma yang dikhawatirkan tidak laku, tiba-tiba laku keras! Diborong semuanya oleh Abdurrahman bin Auf. Sahabat gembira. Abdurrahman bin Auf pun juga gembira.
Sahabat lain gembira sebab semua dagangannya laku. Abdurrahman bin Auf gembira juga sebab dia berharap jatuh miskin! Masya Allah....hebatnya.
Coba kalau kita? Usaha diuji dikit, udah teriak tak tentu arah.
Abdurrahman bin Auf  merasa sangat lega, sebab tahu akan bakal masuk surga dulu, sebab sudah miskin.
Namun... Masya Allah.... Rencana Allah Subhanahu wa ta'ala itu memang terbaik.. Tiba-tiba, datang utusan dari Yaman membawa berita, Raja Yaman mencari kurma busuk.
Rupa-rupanya, di Yaman sedang berjangkit wabah penyakit menular, dan obat yang cocok adalah KURMA BUSUK !
Utusan Raja Yaman berniat memborong semua kurma Abdurrahman bin Auf r.a dengan harga 10 kali lipat dari harga kurma biasa.

Allahu Akbar....


Orang lain berusaha keras jadi kaya. Sebaliknya, Abdurrahman bin Auf berusaha keras jadi miskin tapi selalu gagal. Benarlah firman Allah:
'Wahai manusia, di langit ada rezeki bagi kalian. Juga semua karunia yang dijanjikan pada kalian " ( Adz Dzariat ayat 22).
Jadi.. yang banyak memberi rezeki itu datangnya dari kurma yang bagus atau kurma yang busuk?
Allah Subhanahu wa ta'ala lah yang Memberi rezki
Semoga kisah ini dapat *menyuntik kembali semangat* dalam diri kita semua, yang sedang diuji dalam pekerjaan dan usaha kita, UNTUK LEBIH MENGUTAMAKAN URUSAN Kepada Allah dibanding urusan dunia yang sementara ini, aamiin. Kisah diatas sesuai dengan hadist; Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu , ia mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

‎مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ ، فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ ِ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا كُتِبَ لَهُ ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ نِيَّـتَهُ ، جَمَعَ اللهُ أَمْرَهُ ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ.

Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya.
Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ”
Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.
Lafazh hadits ini milik Ibnu Mâjah rahimahullah.

Minggu, 26 November 2017

Jamaah Shalat Subuh

Jamaah Shalat Subuh      

Shalat fardhu berjamaah di masjid adalah amalan yang sangat tinggi nilainya di sisi Allah terutama bagi laki-laki. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskankan, bahwa shalat fardhu berjamaah di masjid itu menjadi pembeda antara orang beriman dan orang munafik. Dan di antara shalat berjamaah di mesjid yang paling berat adalah shalat isya dan subuh. Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menegaskan, 'Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang-orang munafik adalah shalat isya dan subuh. Sekiranya mereka mengetahui keutamaan keduanya, niscaya mereka akan mendatanginya sekalipun dengan merangkak.' (Hadits riwayat Bukhari  dan Muslim). 

Buya Hamka pernah mengatakan kalau ingin melihat jumlah orang Islam di suatu negeri lihatlah ketika mereka mendatangi shalat Id. Akan tetapi kalau ingin melihat jumlah orang beriman di negeri itu lihatlah ketika mereka hadir di mesjid untuk shalat subuh.

Di komplek perumahan kami yang kecil, yang terdiri dari sekitar 200 buah rumah, kami mempunyai sebuah mesjid jami'. Mesjid tempat dilaksanakannya shalat fardhu berjamaah. Beberapa belas tahun yang lalu, jamaah shalat (terutama subuh) mesjid ini mencapai seratusan orang, terdiri dari 70an orang laki-laki dan sisanya jamaah wanita. Lumayan banyak mengingat jumlah itu meningkat dalam beberapa tahun, dari sebelumnya hanya belasan orang saja. Umumnya para jamaah tersebut adalah pensiunan. Namun jumlah itu pelan-pelan menurun, sehingga yang tinggal hanya sekitar 60 - 70 orang saja, karena satu persatu dipanggil Allah Ta'ala serta ada juga yang pindah alamat.

Tapi sejak lebih kurang setahun terakhir, jumlah jamaah kembali meningkat bahkan jumlahnya lebih tinggi dari yang pernah dicapai belasan tahun yang lalu itu. Yang cukup menarik jumlah jamaah yang masih muda juga bertambah. Bahkan ada anak-anak yang berusia dibawah sepuluh tahun, ikut dengan ayahnya dengan rajin setiap subuh. Shalat yang paling ramai jamaahnya di mesjid kami adalah shalat subuh dan maghrib.

Mudah-mudahan Allah meneguhkan hati kami para jamaah mesjid ini untuk tetap istiqamah menegakkan shalat fardhu berjamaah. Aamiin.

****

Rabu, 22 November 2017

Si Pembohong Tanpa Rasa Malu

Si Pembohong Tanpa Rasa Malu  

Rowan Atkinson atau yang lebih dikenal sebagai Mr. Bean, dalam sebuah lawakannya mempertunjukkan suasana di neraka ketika manusia akan diadili di pengadilan Tuhan. Dipanggilnya satu persatu (mulai dari orang perorang sampai kelompok orang-orang) para penghuni neraka tersebut, di suruh berbaris di tempat yang ditunjuknya. Di antara yang dipanggil itu ada pencuri, pelacur dan..... lawyers...   

Lawyers ini dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai pengacara, yang biasanya jadi pembela kepada orang-orang yang sedang berurusan dalam masalah hukum di pengadilan. Pembela akan membela mati-matian kliennya agar terbebas dari jerat hukum. Target dari pembela adalah membebaskan kliennya dari ancaman hukuman atau setidak-tidaknya mendapat hukuman seringan mungkin. Untuk itu dia mendapat bayaran dari orang yang dibelanya. Jadi sangat mudah difahami kalau dia habis-habisan dalam pembelaan.

Cara pembelaan itu seyogianya tentu dengan argumentasi ilmiyah secara hukum. Mencari kelemahan tuduhan yang disampaikan jaksa dan berusaha mementahkannya. Namun dalam kenyataan, pembelaan itu kadang-kadang jadi berlebih-lebihan noraknya. Si pembela sanggup berbohong dalam pembelaannya. 

Kita baru saja menyaksikan kesaksian seorang pembela kepada seorang tersangka yang terlibat dalam kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan itu sendiri penuh dengan hal-hal yang menjadikan orang awam mengernyitkan kening, saking anehnya. Si tersangka dibawa ke rumah sakit. Oleh pembelanya dinyatakan bahwa dia (si tersangka) dalam keadaan cedera parah. Disebutkan kondisi fisiknya yang babak belur namun ternyata semua itu hanya rekayasa. Dua hari kemudian si tersangka dijemput paksa petugas hukum yang ternyata dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada sama sekali kondisi cedera berat yang diberitakan si pengacaranya.

Maka tahulah orang ramai betapa bohongnya sang pengacara. Yang tanpa malu-malu menyebarkan berita dusta untuk kepentingan kliennya.   

****            

Selasa, 21 November 2017

Demi Waktu

Demi Waktu      

Pada kesempatan ta'lim Ahad ba'da subuh di mesjid komplek kami, ustad membahas tentang penggunaan waktu. Setiap manusia diberi waktu yang sama setiap hari yakni dua puluh empat jam. Manusia menggunakan waktu itu dengan cara berbeda. Waktu yang kita lalui, detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari selama kita hidup. 

Allah bersumpah; Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman dan beramal shalih. Yang saling berwasiat tentang yang haq. Yang saling berwasiat tentang kesabaran. (Surat Al 'Ashr ayat 1 - 3).

Waktu bagaikan anak panah yang melesat dan tidak pernah kembali. Yang sudah berlalu akan tinggal di belakang, semakin menjauh dari ujung kehidupan. Sangatlah bijak kalau kita pandai mengatur penggunaan waktu bukan saja untuk kepentingan dunia tapi yang lebih utama adalah untuk bekal di akhirat.  

Penggunaan waktu itu bisa bernilai ibadah, atau bernilai kemungkaran atau tidak bernilai apa-apa di sisi Allah. Waktu kita shalat, atau berpuasa atau melakukan ibadah-ibadah maka itulah yang bernilai positif. Sebaliknya ketika kita melakukan hal-hal yang dilarang Allah atau kita berbuat maksiat nilainya adalah negatif. Lalu banyak waktu yang kita gunakan untuk hal-hal yang 'boleh' dilakukan, tidak bernilai ibadah dan tidak pula berupa kemaksiatan. Termasuk di dalamnya ketika kita bekerja, makan minum, berolah raga, bepergian untuk melancong, beristirahat, tidur dan sebagainya.

Kegiatan seperti ini bisa menjadi kegiatan ibadah, jika kita melakukannya dengan membaca bismillah dan tidak berbuat kemungkaran dalam melakukannya. Misalnya waktu kita bekerja mencari nafkah, kita awali dengan bismillah, dalam bekerja itu tidak kita lakukan hal-hal yang mungkar. Maka nilainya jadi ibadah. Makan jadi ibadah ketika kita awali dengan ucapan bismillah dan yang kita makan bukan bahan yang haram. Begitu juga dengan tidur. Disunnahkan untuk berwudhu sebelum tidur dan membaca doa. Maka tidur itu akan menjadi ibadah. 

Banyak orang menggunakan waktunya untuk bermain-main, istilah kerennya untuk bersenang-senang. Seandainya bermain-main itu tidak disertai dengan kemungkaran dia tidak akan menjadi perbuatan dosa. Tapi sangat rentan untuk berubah menjadi dosa ketika kita, karena bermain itu jadi lalai untuk melaksanakan perintah Allah untuk shalat. Atau dalam bercengkerama ketika bermain terlibat dalam ghibah. 

Kita akan ditanyai Allah di akhirat kelak tentang waktu yang kita lewatkan dalam hidup, untuk apa saja kita gunakan. Berapa banyak yang bernilai ibadah dan berapa banyak yang dipakai untuk bermaksiat atau berbuat dosa. Di sanalah kita akan merasakan kerugian seperti yang diperingatkan Allah kalau kita tidak pandai-pandai menggunakan waktu.

****