Sabtu, 22 April 2017

Peraturan Dan Ketaatan

Dan Peraturan Ketataan 

Seorang teman memposting berita berikut foto-foto sebuah kecelakaan maut yang terjadi di Puncak hari ini (Sabtu, 22 April 2017). Kecelakaan yang menyebabkan belasan kendaraan (mobil dan motor) rusak berat dan jatuh korban jiwa. Mendengar berita seperti ini pasti sangat mengenaskan. Penyebab kecelakaan, adalah bus yang remnya blong meluncur dari arah Puncak tanpa dapat dikendalikan lalu menabrak kendaraan lain, (mobil dan motor). Sebuah kecelakaan yang mengerikan.
 ________

Siang ini, dalam perjalanan ke mesjid mataku menangkap sebuah stiker tertempel di kaca depan mobil menantu. Ada angka 06/18 tertulis. Aku bertanya, stiker apa itu? Menantuku memberi tahu bahwa itu adalah bukti bahwa mobilnya sudah diuji kelayakannya. Uji kelayakan itu berlaku sampai bulan keenam tahun 2018. Sebuah mobil baru otomatis mempunyai kelayakan untuk empat tahun pertama, lalu setelah itu harus menjalani uji kelayakan setiap dua tahun. Sesuatu yang baru bagiku, karena tahun 1988 mobil kami tidak memerlukan ujian kelayakan seperti itu.

Pertanyaan berikutnya, siapa yang melakukan uji kelayakan? Bengkel tertentu yang ditunjuk pemerintah. Bengkel itu mempunyai standar pengujian (diatur pemerintah) sebelum menetapkan setiap kendaraan itu lolos atau tidak. Dan bengkel-bengkel itu tidak mungkin bekerja asal-asalan karena mereka diawasi. Begitu peraturan yang berlaku dan masyarakat dituntut untuk taat terhadap aturan. Melanggar peraturan diberi sangsi denda atau bahkan hukuman penjara.

Aku teringat keadaan di negeri kita. Kendaraan kita setiap lima tahun harus mendapat sertifikat kelayakan pula dari polisi. Ketika memperbaharui STNK di tahun kelima, kendaraan kita harus menjalani apa yang disebut cek fisik. Sebuah aturan yang sangat baik tentu saja.

Hanya saja, cek fisik itu hanya abal-abal. Yang dilakukan petugas di kantor samsat polisi hanyalah mengambil nomor rangka dan nomor mesin kendaraan yang digosok di kertas khusus menggunakan pinsil sehingga nomor-nomor itu terekam di kertas khusus itu. Selama nomor-nomor tersebut bisa direkam, maka kendaraan akan dinyatakan lulus dalam cek fisik.

Aku tidak tahu apakah untuk kendaraan umum (bus atau mobil penumpang lain) juga melalui cek fisik dengan cara yang sama. Seandainya sama (aku khawatir bahwa caranya mungkin sama saja) mudahlah bagi kita memahami bagaimana kendaraan yang sudah tidak layakpun (yang remnya sudah tidak berfungsi sempurna) dapat berkeliaran di jalan raya, mengancam jiwa siapa saja.  

Peraturan sudah dibuat. Tapi ketaatan terhadap peraturan itu yang sangat perlu dipertanyakan. Siapa yang tidak taat? Kita nilai sajalah sendiri.

****

Kamis, 20 April 2017

Millau

Millau   

Kota kecil itu bernama Millau (dibaca Miyau oleh orang Perancis). Keluarga menantu sudah yang ketiga kalinya berkunjung ke sini. Apa yang istimewa di sini? Ada bangunan sebuah jembatan 'raksasa' di atas sebuah lembah. Jembatan yang tertinggi di dunia, membentang melintasi sebuah lembah sepanjang 2460m. Ada 7 buah pillar yang menyangga jembatan ini. Pillar yang paling tinggi setinggi 343m dari tanah (lebih tinggi dari menara Eiffel di Paris) sementara yang paling rendah setinggi 87m. Jembatan ini dibangun dalam waktu 3 tahun antara tahun 2001 dan 2004.

Ketika kita berkendaraan di atasnya tidak ada yang istimewa rasanya, karena kita melintas di sepenggal jalan bebas hambatan yang mulus. Tapi kalau kita lihat kokohnya tiang-tiang raksasa serta bentangan jembatan itu dari bawah, bangunan itu memang memukau.

Begitu sampai di penginapan di hari Sabtu sore , kecuali pergi berbelanja ke sebuah pasar swalayan di pusat kota (aku sendiri tidak ikut) kami beristirahat saja. Hari Ahad pagi barulah kami pergi melihat-lihat. Melintas di viaduc de Millau, menuju tempat rekreasi yang sudah direncanakan si Tengah dan suaminya. Ke Velo Rail di St. Eulalie. Apa pula itu? 

Ternyata tempat berrekreasi mengayuh kereta di atas rel kereta api yang sudah ditinggalkan, dimulai dari sebuah stasiun. Ada kereta atau gerobak yang dapat dikendarai dengan mengayuhnya di atas rel. Dan banyak pula peminatnya. Ada sekitar sepuluh gerobak yang disiapkan pagi itu. Sebelum dimulai, kami diberi penjelasan terlebih dahulu oleh petugas.  Jarak yang ditempuh sekitar 5 km. Menanjak waktu berangkat dari stasiun. Setelah mendapat penjelasan seperlunya kamipun berangkat beriring-iringan. Waktu berangkat si Tengah dan suaminya yang mengayuh. Rel itu melintasi tiga buah terowongan. Sebuah terowongan (yang terakhir) cukup panjang dan gelap di dalamnya. Perjalanan itu berakhir di pinggir sebuah jalan, di mana rel itu ditutup. Sambungan rel di seberang jalan dibiarkan tertutup oleh semak belukar. 

ungaiWaktu kembali bergantian aku dan istri yang mengayuh. Baru aku sadar bahwa rel itu menanjak waktu pergi. Sekarang waktu kembali gerobak itu meluncur tanpa dikayuh. Justru sebaliknya harus agak direm. Sebuah atraksi yang mendebarkan juga, terutama ketika gerobak itu berlari kencang dalam kegelapan terowongan.
Sore harinya kami menyewa boat mengharungi sungai untuk melihat jembatan dari bawah. Sungai yang tidak dalam, bahkan di beberapa tempat berjeram. Boat itu dijalankan oleh seorang anak muda yang ramah. Dia bercerita tentang pekerjaan besar pembangunan viaduc de Millau. Dan katanya, diapun ikut bekerja di sana saat jembatan raksasa itu dibangun.  

Dia mengoreksiku ketika aku mengatakan, kenapa disebut viaduc, dan bukankah viaduc itu tempat mengalirkan air? No, katanya, yang anda maksud itu disebut aquaduc. Sementara viaduc adalah jembatan yang menghubungkan dua lembah.  

Perjalanan wisata yang menarik selama tiga hari sejak hari Sabtu.

****                     

Selasa, 18 April 2017

Melancong Ke Millau

Melancong Ke Millau    

Sang menantu adalah seorang yang sangat senang menyetir. Inilah awal cerita. Menyetir di negara-negara Eropah adalah sesuatu yang sangat menyenangkan karena jalan yang sangat bagus terbentang beribu-ribu kilometer ke segala arah. Hampir tidak ada hari libur (panjang) tanpa keluarga ini pergi melancong, menempuh jarak beratus kilometer. 

Hari Senin kemarin adalah hari libur di Perancis. Si menantu telah merencanakan sebuah perjalanan lumayan jauh ke Millau yang jaraknya sekitar 400 kilometer di timur laut Pau. Kami berangkat hari Sabtu pagi. Melalui Toulouse di sebelah timur. Perjalanan melalui jalan tol yang santai. Tidak ada kemacetan sama sekali.  

Menjelang siang kami sampai di Toulouse dan rupanya memang sudah direncanakan untuk mampir makan siang di sebuah restoran Indonesia. Restoran kecil mungil yang konon katanya cukup terkenal dan diminati oleh orang-orang Perancis. Nama restoran itu O Bali.



Kami memesan mie goreng a la Padang. Mie goreng yang ditemani tiga tusuk sate ayam dengan kuah sate Padang. Masakannya memang terasa keminangannya. Ketika kami hampir selesai makan, si pemilik restoran itu muncul. Orang muda, atau setidaknya jauh lebih muda dariku. Dan ternyata dia urang awak asli dari Lawang Tigo Balai. Orangnya sangat ramah. Kami bercakap-cakap bahaso Minang. Dia bercerita bahwa dia sudah delapan belas tahun tinggal di Perancis dan sudah memegang paspor Perancis.   

Ruangan restoran itu hanya mempunyai 20 buah tempat duduk. Ada enam belas orang yang sama-sama makan siang dengan kami. Dilayani dua orang pelayan, seorang wanita Bali dan seorang laki-laki Perancis. Restoran ini buka dua jam siang hari dan empat jam untuk makan malam.

Sesudah makan siang kami lanjutkan perjalanan. Kali ini melalui jalan nasional yang lebih kecil. Jalan berliku melalui lahan pertanian dan peternakan. 

Pemandangan yang cukup menyenangkan di udara yang lumayan cerah.  Kadang-kadang terlihat kawanan sapi dan domba tapi tidak dalam jumlah banyak di tanah lapang di pinggir jalan. Daerah yang kami lalui ini terkenal dengan hasil kejunya. 



Kami melintasi beberapa kota kecil dan kampung-kampung. Akhirnya, jam lima sore kami sampai di penginapan di luar kota Millau. Apakah yang istimewa di kota ini sehingga kami dibawa melancong ke sini? Besok kita bahas in sya Allah.

****    

Jumat, 14 April 2017

Baguette

Baguette  
Baguette adalah roti tawar khas Perancis berbentuk tongkat, kira-kira seukuran pergelangan tangan sepanjang kira-kira 50 cm. Baguette boleh jadi identik dengan nasi bagi kita. Apapun menu makanan yang mereka hadapi baguette pasti hadir menyertai. Dan tentu saja roti jenis ini tersedia di mana-mana, apalagi di super market

Pada kedatangan kami terdahulu, di rumah si Tengah hampir selalu tersedia baguette, yang dibeli di super market  terdekat. Biasanya dimakan dengan keju atau mentega atau roti itu dicelupkan ke minuman apakah teh atau kopi. Tapi kali ini, sampai hari keempat kami berada di sini, sang baguette tidak pernah kelihatan. Apa sekarang mereka berpantang? Sampai akhirnya aku menanyakan hal tersebut. Jawaban si Tengah agak mengherankan. Belum sempat membuatnya.

Belum sempat membuat? Apakah dia membuat sendiri baguette yang padahal kalau dibeli harganya cukup murah meriah? Ternyata benar.

Si Tengah yang dokter gigi, selama keberadaan di negeri Perancis ini akhirnya menyibukkan  diri dengan mengikuti kursus membuat roti dan kue. Roti-roti dan kue-kue Perancis tentu saja, yang dalam setiap kesempatan disesuaikan untuk tidak melibatkan bahan-bahan yang tidak halal. Sepertinya dia sudah cukup piawai dalam hal itu. Di antara ilmu yang diperolehnya termasuk cara membuat baguette.  

Pagi ini kami sarapan dengan baguette buatan si Tengah. Dia buat pula sup asparagus. Aku terheran-heran lagi ketika sepotong roti buatannya itu mau diantarkannya ke tetangga Perancis. Orang Perancis dihadiahi sebuah baguette yang harganya hampir tidak ada? yang harganya quatre fois rien? Rupanya itu adalah sebuah tradisi tanda putih hati, begitu katanya. Menghadiahkan sebongkah roti buatan sendiri itu adalah merupakan sebuah penghormatan yang sangat tinggi. Wallahu a'lam. 

Apakah kamu menerima kalau mereka menghadiahimu makanan juga, tanyaku. Mereka tidak pernah mengirim makanan, mungkin karena mengetahui bahwa kita sangat selektif dan berhati-hati dalam bahan makanan. Biasanya mereka membalas hadiah kita dengan mengirim bunga, begitu jawabnya.

****

Selasa, 11 April 2017

Mesjid Di Pau April 2017

Mesjid Di Pau April 2017 

Dua tahun yang lalu kami datang ke kota ini dan tinggal selama satu setengah bulan (dikurangi waktu yang kami gunakan berkunjung ke kota-kota lain). Banyak alasan waktu itu, di samping alasan utama karena anak dan menantu kami tinggal di sini. Kunjungan nostalgia, mengunjungi cucu yang baru lahir. Berbeda dengan keberadaanku selama 6 bulan di tahun 1987, ketika masih sebagai karyawan Total, 2 tahun yang lalu itu aku menikmati keberadaan di kota ini dengan santai. Yang sangat berkesan adalah ketika ikut shalat berjamaah di mesjid Pau, yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari tempat tinggal menantuku itu. 

Kami sampai di rumah ini hari Kamis sore. Aku dalam keadaan influensa dan kecapekan. Hari Jum'at subuh, sang menantu menanyakan apakah aku akan ikut shalat subuh ke mesjid. Badanku terasa masih lemah dan aku menolak. Biarlah subuh ini aku shalat di rumah saja. Sesudah dia berangkat ke mesjid jadi kepikiran juga, bukankah dia pergi dengan mobil? Menyesal, tapi sudah terlambat. 

Baru pada siang harinya aku pergi ke mesjid itu untuk shalat Jum'at. Mesjid ini tampak lebih bersih tapi suasananya masih tidak berobah. Serasa baru kemarin aku ikut shalat berjamaah di mesjid ini. Jemaah shalat Jum'at sangat banyak, tidak tertampung oleh mesjid sehingga harus menempati ruangan sekolah di sampingnya. Khotbah Jum'at disampaikan dalam bahasa Arab pada penggal pertama dan dalam bahasa Perancis pada khotbah kedua.  Sebahagian besar jamaah ini adalah orang Maroko. Di samping cukup banyak juga yang berkulit hitam. Dan yang berwajah  asli Perancis. Suasana shalat seperti ini yang sangat berkesan bagiku, mengingat bahwa ini adalah di sebuah negeri yang mayoritas penduduknya bukan Muslim.

Shalat maghrib sore harinya dan shalat subuh hari Sabtu kami kembali hadir di mesjid ini. Ada tiga shaf jamaah shalat sekurang-kurangnya pada waktu-waktu shalat tersebut. Hanya laki-laki saja yang shalat fardhu berjamaah. Aku masih ingat beberapa wajah dari jamaah tersebut.  Wajah-wajah yang bersih dalam ketaatan.

Di samping mesjid ada sekolah tempat anak-anak belajar mengaji, membaca al Quran. Dua tahun yang lalu Hamizan ikut belajar mengaji di sini. Tapi sekarang tidak lagi. Dia belajar mengaji dengan umi di rumah. Hamizan sudah pandai membaca al Quran.

****

Senin, 10 April 2017

Berkunjung Ke Pau Lagi

Berkunjung Ke Pau Lagi

Sudah sejak pertangahan tahun yang lalu ada pertanyaan dari si Tengah, apakah kami berminat untuk datang lagi ke Pau. Waktu itu kami tidak terlalu yakin, karena setahun sebelumnya kami sudah berkunjung ke sana. Tapi dalam perkembangan waktu, ditambah dengan berbagai pertimbangan (yang mungkin dicocok-cocokkan), perlahan-lahan pikiran kami berubah. Ya, ini adalah kesempatan terakhir sepertinya untuk mengunjungi negeri Perancis tersebut, karena di tahun 2017 keluarga si Tengah akan kembali pulang ke tanah air. 

Baru di bulan Januari yang lalu kami merasa mantap untuk mengunjungi cucu-cucu di Pau itu, dan perjalanan direncanakan sebelum bulan puasa Ramadhan. Mula-mula ada usulan dari menantu agar kami datang di minggu ketiga bulan April. Tentu saja disertai rencana untuk berkunjung ke tempat-tempat khusus selama kunjungan kami. Akupun membeli tiket pesawat secara online untuk keberangkatan tanggal 18 April. Harga tiket yang lumayan murah, sekitar 15 juta untuk penerbangan Jakarta - Paris pp untuk dua orang. 

Tapi, tiba-tiba sang menantu memberitahu bahwa dia akan ditugaskan ke sebuah negara di Amerika Selatan pada pertengahan bulan April, sehingga rencana kunjungan-kunjungan khusus terpaksa ditata ulang. Dia menganjurkan agar kedatangan kami dipercepat dari rencana semula. Aku menghubungi biro perjalanan tempat aku membeli tiket. Ternyata  tidak  mudah untuk merobah jadwal. Mula-mula dikatakan bahwa untuk mengganti tiket keberangkatan dari tanggal 18 April ke 5 April aku harus membayar tambahan biaya 14 juta. Hampir seharga tiket awal. Itulah resiko membeli tiket murah. Akhirnya dengan berbagai perhitungan dan pertimbangan, tiket pertama itu dibatalkan (dengan potongan 30%) dan kami membeli tiket baru.  Kali ini kami beli tiket untuk Jakarta - Toulouse (via Kuala Lumpur dan Amsterdam) pp. Harganya  sedikit lebih murah dari harga tiket sebelumnya plus biaya pergantian jadwal.  

Demikianlah, tanggal 5 April kemarin kami lakukan perjalanan tersebut. Dengan  penerbangan KLM. Berangkat dari Jakarta jam 19.00 malam. Singgah di Kuala Lumpur untuk berangkat lagi dari sana jam 22.00 malam. Dan seterusnya sampai di Schiphol Amsterdam jam 6.00 pagi hari Kamis. Di Schiphol kami harus menunggu 5 jam sebelum melanjutkan penerbangan ke Toulouse. Kenapa Toulouse? Karena Toulouse lebih dekat ke Pau dibandingkan Paris dan kami akan dijemput keluarga menantu di sana.

Waktu kami keluar dari gerbang bandara, si Tengah sudah menunggu di sana. Suaminya serta si Fathimah kecil sedang ke toilet. Hamizan tidak ikut menjemput karena dia sekolah.  Kami langsung menuju Pau sejauh 190 km dari Toulouse. Akhirnya jam setengah lima sore waktu setempat, kami sampai di tempat kediaman mereka di Pau. Aku sedang terserang flu berat sejak sebelum berangkat. Begitu sampai di rumah langsung minta izin untuk beristirahat dulu. Aku terbangun waktu dibangunkan Hamizan. Sungguh sangat membahagiakan pertemuan dengan anak, menantu dan cucu-cucu ini.  

****

Senin, 03 April 2017

Ketetapan Allah Untuk Masing-masing Kita

Ketetapan Allah Untuk Masing-masing Kita 

Hari Ahad siang kemarin aku menghadiri undangan pernikahan putera rekan sekantor dulu. Tempatnya di sebuah gedung di Jakarta Barat. Menghadiri undangan seperti ini tentunya sesuatu yang biasa-biasa saja, yang terjadi setiap saat. Di pesta itu biasanya kita berjumpa dengan rekan-rekan lain, baik yang sudah sama-sama pensiun ataupun yang masih aktif bekerja. Berbagi cerita ke hilir ke mudik. Tentang si Anu dan si Itu.

Yang punya hajat jauh lebih muda dariku dan sekarang dia adalah orang nomor satu di perusahaan. Karirnya luar biasa cemerlang. Dia mulai bekerja sebagai staf biasa sekitar 20 tahun yang lalu dan melesat dengan pesat sampai akhirnya menduduki posisi puncak. Begitulah keberhasilan kalau Allah berkehendak.

Dalam obrolan di pesta itu terbahas pula tentang teman-teman lain yang tidak kelihatan hadir. Bermacam-macam keadaannya. Bahkan ada yang sudah tidak ada lagi. Ada yang biasa-biasa saja keadaannya. Ada yang berhasil dan tetap sehat. Tapi ada pula yang kurang beruntung.

Seorang rekan juniorku bercerita tentang rekan lain yang sedang mendapat musibah. Rumahnya dimasuki rampok saat ditinggalkan di suatu siang hari. Perampok menggondol barang-barang di rumahnya termasuk mobil yang terparkir di pekarangan. Begitulah memang kebuasan kota Jakarta ketika kita sedikit terlengah. Namun yang lebih mengagetkan adalah cerita si junior, bahwa dia itu (yang rumahnya kena rampok) baru saja menjalani operasi untuk penyakit yang cukup berat. Penyakit yang sepertinya datang dengan sangat cepat. Sekitar setahun yang lalu, kami mengadakan reunian alakadarnya di sebuah restoran untuk makan siang bersama. Dia ini masih segar bugar saat itu. 

Bersyukurlah ketika kita masih diberi Allah nikmat hidup di usia pensiun seperti aku. Masih diberi nikmat sehat. Masih bisa mendatangi undangan pesta. Namun perlu disadari bahwa semua nikmat kehidupan itu semakin dekat menjelang berakhir. Suatu saat yang entah kapan, entah segera atau entah masih beberapa waktu. Ketika itu, kita akan jadi sekedar cerita kenangan bagi yang masih tinggal.

****