Senin, 22 Mei 2017

Pasar Tradisional Di Pau

Pasar Tradisional Di Pau 

Kota Pau boleh dikatakan kota kecil di Perancis. Jauh lebih kecil dibandingkan dengan Paris, Marseille, Lyon, Bordeaux misalnya. Tapi kota ini tidak kekurangan pasar swalayan besar (hypermarche kata orang Perancis). Pasar-pasar swalayan itu ada beberapa buah dengan segala macam barang dagangan yang sangat lengkap di dalamnya.  


Yang unik adalah keberadaan pasar tradisional, yang menempati seruas jalan sepanjang beberapa ratus meter. Pasar tradisional di Pau ini dibuka setiap Ahad pagi. 

Ada tenda-tenda dan meja-meja tempat barang dagangan dipajang bersusun-susun. Sebagian besar yang dijual adalah bahan makanan mulai dari sayur mayur, buah-buahan dan berbagai macam daging, keju, susu. Ada juga makanan yang sudah matang dan kue-kue. Selain bahan makanan meski tidak banyak ada pula pedagang tekstil dan peralatan rumah tangga. 

Masing-masing pedagang berkelompok bersama-sama, seperti pedagang sayur mayur sama-sama pedagang sayur, pedagang buah-buahan sesamanya pula dan lain sebagainya. Masing-masing sama-sama mendapatkan pembeli. Tidak kurang pula yang berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Kebanyakan dari mereka adalah para imigran dari Maroko. Si Tengah menjuluki pasar ini sebagai pasar Arab, meski tidak semua pedagangnya orang Arab Maroko. 

Hari Ahad kemarin kami pergi ke pasar tradisional ini. Istriku yang selalu menagih untuk berkunjung, karena ingat keunikan berbelanja di sana pada kunjungan kami dua tahun yang lalu. Memang masih sama keadaannya. Pengunjungnya tetap ramai. Jelas bahwa pasar ini bukan arena perdagangan ecek-ecek.

Si Tengah mampir dan membeli kuskus dan 'gulai' ayam kesukaan Hamizan. Dan ayam 'tawaf', ayam utuh yang dibakar di pemanggangan berputar. 

Sepertinya pasar tradisional seperti ini  sangat umum di Perancis . Aku ingat, dekat tempat tinggal kami di Courbevoie hampir 30 tahun yang lalu juga ada pasar seperti ini. Pasar sekali seminggu itu, begitu selesai waktunya (setengah hari) langsung dibersihkan sebersih-bersihnya.




                    

Minggu, 21 Mei 2017

Lindt Si Pembuat Coklat

Lindt Si Pembuat Coklat  

Hari Sabtu kemarin kami pergi ke Oloron, sekitar 40 kilometer di baratdaya Pau. Jarak yang sebenarnya sangat dekat. Melalui jalan nasional, jalan raya yang agak berliku-liku. Melalui lahan pertanian dan peternakan dengan ternak sapi dan domba. Dan kadang-kadang melalui hutan pula. Pemandangan seperti ini  memang sangat umum terlihat kalau kita melalui jalan yang bukan tol. 

Apa yang menarik di kota kecil ini? Di sini terdapat pabrik pembuatan coklat dengan merek dagang Lindt. Beberapa hari sebelumnya, waktu kami berbelanja di pasar swalayan besar di Pau, istriku memilih-milih beberapa bungkus cokat untuk dibawa sebagai oleh-oleh, si Tengah langsung nyeletuk, 'kenapa kita tidak pergi mencari coklat ke pabriknya saja?' Dia segera menelpon sang menantu dan menyampaikan ide tersebut. Yang rupanya langsung disetujui oleh suaminya.  

Itulah yang kami lakukan. Berangkat dari rumah jam sepuluh pagi. Udara cukup cerah. Kami langsung menuju ke toko yang terletak di depan pabrik yang cukup besar. Dan kunjungan itu memang dipusatkan ke toko itu. Bangunan toko yang tidak terlalu besar, dipenuhi oleh rak-rak yang penuh dengan berbagai macam produk coklat.

Istriku dan si Tengah sibuk memeriksa kandungan bahan yang terdapat di bungkus masing-masing coklat sebelum memilihnya. Harus diperhatikan betul apakah tertulis kandungan alkohol atau bahan berunsur babi. Menurut si Tengah kita bisa mempercayai informasi tentang kandungan bahan yang dicantumkan di bungkus produk makanan apapun di Perancis. Para produsen sangat berhati-hati dalam hal itu, karena seandainya mereka berbohong, akan sangat besar resikonya.
Cucu kami Hamizan dan Fathimah ikut sibuk melihat-lihat coklat yang bertebaran.  Dan berfoto di belakang patung gambar tiga chef yang sedang mengaduk adonan coklat.

Belanja coklat itu selesai juga akhirnya. Toko yang lumayan besar itu hanya dilayani seorang petugas yang duduk di meja kasir.

Kunjungan itu berakhir sampai di toko itu saja. Tidak mungkin juga kami mengunjungi pabrik yang terletak di belakang toko, karena memang tidak minta izin untuk itu. 

Coklat yang diolah di pabrik itu mungkin saja sebagian berasal dari negeri kita karena pohonnya tidak tumbuh di Perancis. Mereka mengolahnya dengan bersungguh-sungguh dan berhati-hati untuk kemudian dijual ke manca negara. Kenapa di Indonesia kita tidak mengolah buah coklat kita untuk jadi produk seperti yang dilakukan Lindt ini? Entahlah. Mungkin Hamizan dan Fathimah yang akan menjawabnya suatu hari kelak.



                                    









Kamis, 11 Mei 2017

Le Train de la Rhune

Le Train de la Rhune   

Aku punya seorang rekan sekerja dulu di Total yang berasal dari Basque. Dia pernah bercerita tentang negerinya, Basque. Pays Basque, yang terletak di bagian utara Spanyol dan barat daya Perancis. Ada kelompok yang menginginkan kemerdekaan sendiri bagi negeri Basque.  Di Spanyol mereka dicap sebagai kaum separatis / pemberontak. Dulu, beberapa belas tahun yang lalu kelompok ini sering membuat kerusuhan dalam usaha mereka memisahkan diri dari Spanyol. Tapi akhir-akhir ini gebrakan mereka sudah tidak terdengar lagi.
Sebagian dari negeri orang Basque terletak di Perancis, sambungan dari yang di Spanyol.  Konon orang Basque mengaku bahwa mereka adalah penduduk lebih asli dari orang Eropah lain. Bahasa mereka sangat berbeda dengan bahasa Perancis atau Spanyol yang serumpun.

Hari Ahad yang lalu kami pergi melancong kesana. Ke kota Rhune. 140 km dari Pau. Menantu bercerita bahwa di sana ada objek wisata, naik kereta api mendaki sebuah bukit. Naik kereta? Aku bertanya dalam hati, mula-mula. Tapi, ya ikut sajalah. Namanya juga dibawa jalan-jalan. Dalam perjalanan ke Rhune kami lalui kota Espelette yang unik, yang mendeklarasikan kotanya sebagai kota cabe. Cabe merah jadi lambang kota ini. Waktu berada di kota ini, kami diingatkan kalau akan pergi ke tempat wisata kereta api harus bersegera karena hari itu pasti penuh dengan pengunjung. 

Kami lanjutkan perjalanan melalui jalan yang relatif sepi. Tapi begitu sampai di dekat lokasi, ternyata benar. Banyak sekali mobil terparkir di pinggir jalan. 

Kami sampai di lokasi dan segera antri untuk membeli karcis. Kereta api itu diberangkatkan setiap 40 menit. Kami harus menunggu hampir satu jam sebelum dapat giliran menaikinya. Aku masih bertanya-tanya dalam hati, apa istimewanya kereta dengan gerbong sederhana ini?
Giliran kami akhirnya datang. Kami naiki gerbong kayu dengan tempat duduk kayu. Seperti kereta api yang aku naiki di kampung setengah abad yang lalu. Sempat terlihat rel kereta bergigi. Tentulah gigi itu diperlukan untuk menanjak ke arah gunung. Ada dua rombongan kereta, masing-masing terdiri dari dua gerbong, ditunda oleh sebuah lokomotif.

Perjalanan itupun dimulai. Kereta itu bergerak pelan. Ada penjelasan dengan tape yang diputar melalui mikrofon tentang kereta gunung ini dalam tiga bahasa, Perancis, Spanyol dan satu lagi kemungkinan  bahasa Basque. Kereta gunung ini diperkenalkan pertama kali di tahun 1924. Sudah lama sekali. Jarak yang akan ditempuh hanya 4.2 km. Tapi kereta ini memerlukan setengah jam untuk melintasinya.

Perjalanan itu ternyata cukup spektakuler. Kereta menanjak, berliku, mendaki cukup tajam untuk mencapai puncak bukit setinggi 900 meter di atas muka laut. Melalui perbukitan berbatu, di pinggir jurang yang cukup terjal. Aku perkirakan stasiun pemberangkatannya di ketinggian 400 meter. Jadi artinya kereta ini menanjak setinggi 500 meter dalam jarak 4 kilometer.

Dari pemberhentiannya kami harus naik tangga lagi untuk sampai ke puncak gunung. Di puncak itu ada lapangan, restoran dan toko souvenir. Kita bisa melayangkan pandangan ke segala arah. Di bawah sana  di sebelah barat terlihat kota Biaritz dan pantai lautan Atlantik. 

Pemandangan yang sangat cantik pada perjalanan yang mendebarkan ini. Keindahan yang dikelola dengan apik dan dipertahankan. Tiket kereta ini lumayan mahal. Tapi pengunjungnya ternyata sangat banyak. Tempat ini hanya dibuka dari pertengan Maret sampai pertengahan November setiap tahun. Dan paling ramai selama liburan musim panas di bulan Juli - Agustus. 

Hari yang sangat berkesan.

****                            

Selasa, 09 Mei 2017

Ditanduk Tajin

Ditanduk Tajin 

Tajin adalah masakan khas Maroko, terdiri dari kuskus alias bulir gandum ditanak ditemani daging dan sayur yang dimasak dengan rempah-rempah. Dagingnya bisa daging sapi dan daging kambing dengan potongan-potongan besar. Sayurnya wortel, kentang, daun bawang dan disertai pula oleh plum yang seperti buah kurma. Aku menyukainya, dan memang rasanya enak menurut lidahku karena ada mirip-miripnya dengan gulai masakan Minang. Yang khas adalah gandum bulirnya itu. Begitu sukanya aku, suatu ketika aku datang untuk sebuah misi kantor ke Paris di tahun 2004, aku membawa pulang belasan kotak kuskus mentah di dalam koper. Di rumah, istriku memasak asam padeh daging lengkap dengan sayuran seperti di atas (minus plum). Kami sekeluarga sangat menyukainya.

Waktu kami sampai di Marakesh, malam harinya kami disuguhi tajin istimewa. Dengan daging sapi dan kambing. Dalam porsi luar biasa besar untuk kami berenam termasuk dua orang kanak-kanak. Dan enak sejali. Dengan bismillah, aku menikmatinya, sedikit lebih banyak dari porsi makan malamku. Karena di samping enak, kami lagi lapar-laparnya, maklumlah di pesawat dari Paris ke Marakesh kami tidak dapat makan. 

Hari Selasa, hari kedua di Marakesh, kami makan siang dan malam di restoran. Tajin lagi. Tidak seenak yang tadi malam, tapi masih lumayanlah. Hari Rabu siang, sesudah berjalan-jalan dengan pemandu wisata, kami masuk restoran. Tajin lagi. Saat itu aku mulai merasa kurang nyaman, meski tetap berusaha menyantapnya. Untuk malamnya, ternyata si Tengah dan suaminya sudah memesan makanan buatan tempat menginap lagi. Diwanti-wanti agar porsinya jangan sebanyak yang di malam pertama. 

Malam itu aku mencoba menikmati makanan tersebut tapi perutku mulai merasa tidak nyaman. Aku makan tidak sebanyak di malam pertama. 

Kemudian aku pergi tidur. Jam satu malam aku terbangun untuk pergi ke kamar kecil. Buang air besar, perutku terasa tidak nyaman. Aku merasa mual. Setelah selesai aku kembali naik ke tempat tidur. Jam tiga aku kembali terbangun karena perutku mulas dan mual. Setengah berlari aku menuju closet. Dan muntah. Isi perutku keluar semua. Baru agak lega rasanya.

Aku kembali tidur. Subuh baru jam enam pagi di Marakesh. 

Paginya baru aku ceritakan ke istri apa yang terjadi denganku malam itu. Kamu ditanduk tajin, katanya. Dan benar sekali. Waktu kami makan siang di restoran lagi (saat berjalan-jalan keluar kota) aku minta dibuatkan omelet saja yang aku makan dengan roti. Yang lain masih menikmati tajin mereka. Untuk makan malam, si Tengah membeli ayam goreng KFC dan kami memasak nasi di penginapan. Hari Jum'at siang, kami berjalan-jalan ke sebuah taman di Marakesh. Di dalam taman itu ada restorannya. Menantu memesan makanan, dan aku cepat-cepat mengingatkan agar untukku tidak usah pesan apa-apa. Makanannya sudah pasti tajin lagi. Bahkan melihat mereka makan saja perutku kembali terasa mual. Aku tidak makan apa-apa siang itu.

Setelah kembali ke Pau, si Tengah beberapa kali menanyakan apakah rasa mualku melihat tajin sudah hilang. Karena di Pau ini pada kedatangan dua tahun yang lalu, kami pernah dua kali makan tajin di restoran Maroko, yang waktu itu aku bilang cukup enak. Aku belum bisa mengatakan sudah tidak merasa mual lagi saat ini.

****     

Sabtu, 06 Mei 2017

Perjalanan Keluar Kota Marakesh

Perjalanan Keluar Kota Marakesh     

Hari Kamis kami melakukan perjalanan ke luar kota Marakesh. Ke arah Ourika di sebelah tenggara. Mulanya aku mendengar rencana acara hari itu adalah ke suatu tempat untuk menunggang unta, masih dalam kota. Cucu-cucuku, Izan dan Fathimah sama-sama mengulang-ulang keinginan mau naik unta. Dekat tempat kami menginap memang terlihat unta-unta untuk disewa yang sudah ada tempat duduk (bukan pelana) di punggungnya. Tapi rupanya petugas hotel menyarankan untuk melancong ke Ourika yang katanya ada banyak pemandangan yang pantas dilihat. 

Tempat yang akan dituju sekitar 50 km dari Marakesh. Cuaca sangat cerah. Kami berangkat jam sepuluh pagi dengan mobil yang disewa khusus. Sopirnya pandai berbahasa Perancis. Melalui jalan raya yang mulus dan sangat lancar. Dalam perjalanan itu bung sopir menawarkan untuk mampir di perkampungan Berber. Sebuah tawaran yang menarik. 

Kampung itu terletak persis di pinggir jalan yang kami lalui. Kami menuju ke sebuah rumah yang terletak di tebing jalan. Sebuah rumah kampung sederhana, berdinding tembok tanah liat, bertingkat tiga, mengikuti kontur tebing. Di bagian paling bawah adalah kandang ternak. Ada beberapa buah kandang, berisi sapi, keledai, kambing, ayam dan kelinci. Agak bau tentu saja. Di atas kandang berturut-turut ada ruangan keluarga dan dapur.  Di bagian paling atas ada kamar-kamar tidur, kamar mandi dan ruang terbuka.

Ada seorang (mungkin anggota keluarga) yang fasih berbahasa Perancis, bercerita tentang kehidupan orang Berber di kampung itu. Di samping berbahasa Arab, orang Berber punya bahasa sendiri dan bahkan punya huruf sendiri yang agak mirip tulisan Korea. Agak aneh memang.

Mereka hidup bertani dan berternak. Di rumah ini tinggal beberapa keluarga yang adalah keluarga anak-anak dari sepasang suami istri. Meski hidup sederhana, kelihatan mereka sangat bahagia. Mereka adalah orang-orang yang ramah.
Aku bertanya apakah masih ada orang Berber yang nomaden. Dia bilang sudah hampir tidak ada. Karena sekarang anak-anak mereka juga harus bersekolah.  Penampilan fisik orang Berber tidak ada bedanya dengan orang Maroko lainnya. Aku teringat informasi dari Abdul Aziz, kemarin bahwa orang Berber diduga berasal dari jazirah Arab. Mereka datang sebagai penggembala kambing yang hidup nomaden.

Ada rombongan lima orang turis Perancis yang datang sesudah kami. Sepertinya mereka sudah membuat perjanjian sebelum kedatangannya. Tuan rumah menyiapkan teh dengan mint khusus untuk turis-turis yang baru datang itu. Mereka terlibat dalam obrolan sambil duduk di ruang tamu. Kami juga ditawari untuk minum teh, tapi kami tolak. 

Kami tinggalkan rumah keluarga Berber itu untuk melanjutkan perjalanan. 

Berikutnya kami berhenti di sebuah lapangan di mana tertambat beberapa ekor unta. Ada beberapa pedagang souvenir kaki lima. Dan beberapa orang pengunjung. Di sini acara menunggang unta itu akan dilakukan. Di belakang tanah lapang ini ada sebuah lembah dengan sungai mengalir.

Mula-mula aku menerima tawaran menantu untuk ikut mencoba menunggang unta. Aku dan istri mencoba naik ke punggung unta. Tapi melihat jalan yang akan dilalui turun ke  lembah, nyaliku jadi ciut dan akhirnya membatalkan keikutsertaanku. Begitu pula dengan istriku. Jadinya kami hanya menonton saja acara menunggang unta itu. Si Tengah dengan Hamizan dan menantu dengan Fathimah. Mereka tidak ada takutnya.

Setelah acara menunggang unta perjalanan dilanjutkan lagi. Sopir kami bercerita tentang tumbuhan argan yang diusahakan penduduk untuk memproduksi minyak argan. Dia menawarkan kalau kami mau mampir di sebuah koperasi tempat pemerosesan biji argan tersebut. Kami menyetujuinya. 

Kami berhenti dekat sebuah bangunan besar di pinggir jalan. Disambut seorang wanita yang rupanya jadi pimpinan di sana. Kami dibawa masuk dan menemukan kumpulan wanita-wanita yang sedang bekerja memeroses biji argan.
Tumbuhan tersebut menghasilkan buah yang diambil bijinya. Biji tersebut dikeringkan, lalu ditumbuk untuk seterusnya digiling dengan peralatan sederhana. Minyak argan digunakan untuk bahan kosmetik di samping untuk obat. Wanita pimpinan itu bercerita tentang berbagai khasiat dari minyak argan untuk menyembuhkan penyakit kencing manis, darah tinggi dan menurunkan kolesterol. 

Masih menurut wanita itu, tanaman argan hanya bisa tumbuh dan berbuah di daerah mereka itu saja. Pernah dicoba menanamnya di tempat lain tapi sejauh ini tidak pernah ada yang berhasil.

Dari sana kami masih melanjutkan lagi perjalanan. Menurut sopir ada sebuah air terjun di tujuan berikutnya. Kami menuju ke sana, sampai di suatu area di pinggir sungai. Banyak restoran di sana dan bahkan ada tempat makan di pondok-pondok di tepi sungai. Kendaraan tidak boleh lagi maju lebih jauh. Sopir itu mengatakan untuk mencapai air terjun kita harus berjalan kaki sekitar setengah jam. Kami sudah terlalu letih untuk berjalan kaki lagi di udara yang cukup panas. Kunjungan ke air terjun terpaksa dibatalkan. Kami beristirahat makan siang di tempat itu, sebelum kembali pulang ke Marakesh.

****                

Kamis, 04 Mei 2017

Mengunjungi Tempat-tempat Khusus Dengan Pemandu Wisata

Mengunjungi Tempat-tempat Khusus Dengan Pemandu Wisata 

Hari Rabu kami melakukan kunjungan ke tempat-tempat khusus di kota Marakesh dipandu seorang pemandu wisata. Sang pemandu, orang Maroko asli bernama Abdul Aziz, sangat ramah. Kami bertemu dengannya di dekat mesjid jami' Kutubiyah. Dia langsung memulai ceritanya tentang mesjid itu, yang dibangun di penghujung abad ke dua belas. Sebuah mesjid yang mempunyai keistimewaan di kerajaan Maroko. Kutubiyah berarti 'penjual buku', konon mempunyai koleksi buku-buku tentang Islam. Mesjid ini mempunyai menara setinggi 77 meter. Diatur oleh undang-undang bahwa tidak ada bangunan yang boleh lebih tinggi dari menara mesjid ini di kota Marakesh. 

Sayangnya, kami hanya bisa mendengar cerita Abdul Aziz tentang keindahan dan keutamaan mesjid Kutubiyah karena kami tidak bisa melihat keadaan di dalamnya, kecuali kalau kami datang di saat waktu shalat. Karena peraturan yang ditetapkan raja Muhammad VI, semua mesjid di Maroko hanya boleh dibuka di waktu-waktu shalat dan sesudah shalat harus dikunci kembali. Aku menanyakan apa alasan penutupan mesjid di luar waktu shalat dan kami terlibat dalam debat dengan Abdul Aziz tentang peraturan itu. Dia hanya mengatakan bahwa hal tersebut diperintahkan raja, dan tidak ada seorangpun yang berani menyanggahnya.

Kami lanjutkan perjalanan di pagi itu menuju istana Bahia. Melalui quartier juif alias kampung Yahudi. Abdul Aziz menceritakan bahwa dulu di sini bermukim orang-orang Yahudi Maroko dengan tenteram. Mereka berperawakan, berpakaian, memakan makanan yang sama seperti orang Maroko lainnya. Yang membedakan hanyalah bahwa mereka menutup tokonya di hari Sabtu. Sekarang orang-orang Yahudi itu sebahagian besar sudah beremigrasi ke Israel, namun tetap secara berkala pulang ke Maroko. Mereka membahasakan bahwa raja Maroko adalah raja mereka dan Maroko adalah tanah air mereka. Abdul Aziz menambahkan bahwa saat ini 8 orang menteri Israel adalah orang Yahudi Maroko. Waktu dia begitu bersemangat bercerita tentang Yahudi Maroko, aku bertanya dengan canda, apakah dia seorang Yahudi? Bukan, jawabnya. Saya asli Maroko dan Islam. Saya sudah pergi haji....

Kami sampai di istana Bahia. Istana (disebutnya palais, palace) tapi bukan untuk tempat tinggal raja, melainkan untuk perdana menteri, Sidi Musa. Istana ini dibangun di akhir abad sembilan belas, diberi nama Bahia, seperti nama istri perdana menteri Musa, yang memberinya anak laki-laki pertama. Dari luar tidak terlihat istimewa, tapi di dalamnya cukup mengagumkan. Menurut Abdul Aziz, penampakan sederhana dari luar ini adalah sebagai sikap tidak suka pamer.
Istana ini menempati tanah seluas 8000 meter persegi, mempunyai puluhan kamar-kamar, taman-taman dan air mancur. Ada kamar untuk keempat istri Sidi Musa di samping kamar lain untuk para selir. Bagian dalam istana ini dihiasi dengan kalighrafi serta mosaik keramik yang disusun dari potongan keramik-keramik kecil yang dikerjakan ahlinya yang berasal dari Fes. Luar biasa juga hebatnya perdana menteri Sidi Musa ini. Selama masa protektorasi Perancis, istana ini ditempati oleh gubernur Perancis. Gubernur ini menambahkan cerobong asap (chimney) yang menurut pendapat Abdul Aziz sangat dipaksakan dan justru memperburuk keindahan istana. Saat ini istana tersebut hanya jadi cagar budaya dan kelihatan rusak di beberapa tempat. Abdul Aziz menjelaskan bahwa furniture dan permadani istana ini sudah tidak ada lagi karena sebahagian besar hilang dicuri orang.

Seterusnya kami mengunjungi madrasah Bin Yusuf. Perlu diketahui bahwa semua objek yang kami kunjungi terletak di dalam kota lama (Medina) dan kami berjalan kaki untuk mencapainya, melalui pasar tradisional yang sangat luas. Jarak dari Istana Bahia ke madrasah sekitar 3 kilometer. 

Madrasah ini dibangun oleh salah satu raja Maroko, yakni Sultan Ali bin Yusuf yang memerintah antara tahun 1106 - 1142. Dengan pergantian waktu, sejak abad ke empatbelas, madrasah ini berubah menjadi sebuah universitas untuk pendidikan agama Islam dan merupakan yang terbesar di Maroko dan bahkan termasuk yang paling baik di Afrika Utara. Sebagian besar ulama Maroko berasal dari sekolah ini. 

Bangunan besar ini disamping mempunyai ruang belajar, mesjid, taman (lapangan) serta kolam tempat bersuci mempunyai 130 buah kamar untuk para santrinya. Kamar-kamar berukuran kecil sekitar 10 sampai 12 meter persegi. Ada yang mempunyai jendela dan ada yang tidak. Kamar-kamar itu benar-benar digunakan untuk tempat tidur saja, karena sehari-harian para santri berada di ruang belajar atau mesjid. 

Sayang sekali bahwa sarana pendidikan ini akhirnya ditutup di tahun 1962 karena, pemerintah memperkenalkan sistim pengajaran baru bahkan untuk sekolah berbasis agama

Bangunan ini direnovasi dan dibuka kembali sebagai peninggalan sejarah sejak tahun 1982. Kondisinya sekarang terlihat kurang terpelihara. Abdul Aziz mengatakan karena pemerintah tidak mempunyai cukup dana untuk memeliharanya lebih layak.

Demikian kunjungan kami ke objek sejarah kota Marakesh di hari itu, yang kami lakukan sejak jam sepuluh pagi dan berakhir jam empat sore.   

**** 






Selasa, 02 Mei 2017

Marakesh Kota Di Maghribi

Marakesh Kota Di Maghribi  

Maghribi adalah nama lain dari Maroko. Negeri tempat matahari terbenam di sebelah barat Afrika. Yang pernah dikunjungi Zulqarnain seperti dikisahkan dalam surat Al Kahfi. Marakesh adalah sebuah kota tua di negeri itu. Maroko adalah sebuah kerajaan, dan rajanya yang sekarang bernama Muhammad VI. Negeri yang berbatasan dengan Spanyol di utara dan dari pantainyalah pasukan Thariq bin Ziyad menyeberang untuk menaklukkan semenanjung Iberia. 

Menurut sejarah sebelum datangnya bangsa Arab membawa agama Islam, penduduk Maroko adalah suku Berber. Islam datang ke Maroko di tahun-tahun awal sejak agama ini dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Orang-orang Arab berasimilasi dengan mereka. Masyarakat Berber bukan saja menerima pendatang Arab itu tetapi juga menerima Islam dan bahasa Arab. Orang Maroko sekarang sebagiannya adalah keturunan Arab. Tentu saja menarik untuk menyusuri jejak-jejak keagungan Islam di negeri ini. Paling tidak di kota Marakesh ini.

Maroko pernah menjadi protektorat Perancis sejak tahun 1912 sampai kembali merdeka di tahun 1956.

Demikian sedikit latar belakang yang aku coba gali tentang Maroko sebelum datang ke Marakesh. 

Hari Selasa kami mulailah melihat-lihat kota Marakesh. Diantar mobil penginapan (disewa, dan kami minta untuk menjemput kembali sore nanti). Cuaca cerah dengan suhu mirip udara di Bandung. Dimulai dengan kunjungan ke Medina, bagian kota lama yang dilingkungi oleh pagar tembok. Kami lalui lapangan besar di tengah kota yang barangkali seperti alun-alun bagi kota-kota di Jawa. Banyak orang lalu lalang di lapangan ini. Ada beberapa pedagang kaki lima baik dengan gerobak sederhana maupun yang menggelar dagangan di tanah. Ada pedagang asongan. Ada topeng monyet, atraksi ular sendok dengan pawangnya meniup-niup terompet dengan irama tidak jelas. Ada yang berpakaian badut. Menantuku mengingatkan agar tidak sembarang memotret dan tidak usah memberi perhatian berlebihan kepada atraksi yang manapun.
 
Setelah melewati 'alun-alun' kami masuk ke bagian pasar tradisional. Orang Maroko di samping berbahasa Arab juga berbahasa Perancis. Dari yang berbahasa sekedarnya (pelayan restoran, pelayan toko) sampai yang fasih. 

Tidak lama kemudian kami mendengar suara azan. Kami segera menuju mesjid yang terletak di dekat pasar tersebut untuk shalat zuhur.  Tempat shalat wanita terpisah dari ruang utama mesjid.



Di pintu masuk ada seorang penjaga yang memberikan kantong alas kaki terbuat dari kain. Alas kaki kita dimasukkan ke dalam kantong itu dan dibawa masuk ke dalam mesjid, diletakkan di rak-rak dekat kita shalat. Mesjid yang lumayan besar itu penuh di ruang utamanya. 


Sesudah shalat kami lanjutkan lagi melihat-lihat di sekitar pasar. Hari itu kami memang berjalan-jalan sesukanya saja tanpa pemandu. Dilanjutkan dengan berkeliling kota Medina dengan kereta kuda. Kereta berkuda ini sangat banyak dan disediakan hanya untuk turis (bukan alat transport untuk umum). Mereka antri menunggu penumpang / turis  

Hari itu kami selesaikan dengan makan malam di sebuah restoran masih di lingkungan 'alun-alun'. Dengan menu tajin lagi.....

****