Rabu, 14 Februari 2018

Pasar Kelandasan

Pasar Kelandasan 

Pasar Kelandasan adalah salah satu pasar tradisional di Balikpapan. Pasar yang lumayan bersih. Istriku sangat suka berbelanja di pasar ini, terutama untuk membeli ikan-ikan laut yang segar hasil tangkapan nelayan yang baru diturunkan. Balikpapan ini memang surga untuk hasil laut. Berbagai jenis ikan yang aku tidak semuanya faham namanya. Tidak jarang terlihat ikan-ikan laut yang dijual itu masih hidup. Aku yang biasanya tidak terlalu suka menemani istri berbelanja ke pasar, kalau ke pasar Kelandasan ini tidak berkeberatan. Senang sekali melihat aneka ikan-ikan segar itu. 

Kalau kami berkunjung ke Balikpapan dipastikan ada acara membuat gulai kepala kakap di rumah. Aku sendiri atau istriku yang memasaknya. Pada kunjungan kali ini istriku yang membuatnya. Berbeda sekali rasanya ketika ikan yang dimasak masih segar.

Dan perlu pula berbelanja ikan untuk dibawa ke Jatibening. Kakap besar, udang galah, ikan kuwe. Secukupnya saja, tidak untuk kelebihan berat bagasi pesawat. Semuanya setelah dipotong-potong dan dibersihkan dimasukkan ke dalam freezer untuk dipak ke dalam kotak steorofom. Udang galah memang hasil laut / sungai yang sangat favorit sejak kami tinggal di Balikpapan beberapa puluh tahun yang lalu. Ah, dulu itu.... Setiap kali kami menerima tamu dari kampung atau dari Jakarta, disuguhi dengan udang galah besar digoreng..... Yang bau harumnya memenuhi rumah. Pernah kami mendapat tamu yang benar-benar hanya menyantap udang-udang itu saja....

Ada lagi belanjaan yang murah di pasar ini yaitu kikil sapi. Satu kaki yang di Jakarta harganya sekitar 90 ribu rupiah, di Balikpapan hanya 50 ribu saja. Seperti itu perbandingan harganya empat tahun yang lalu dan masih seperti itu sekarang. Dan istriku membeli beberapa buah kaki sapi yang juga akan dibawa pulang. Caranya sama, dibersihkan lalu disimpan di freezer sebelum dipak untuk dibawa.    

Sudah berakhir pula kunjungan kami selama seminggu di Balikpapan. Hari ini kami kembali ke Jatibening. Dengan oleh-oleh ikan yang dibeli di pasar Kelandasan.

****            

Senin, 12 Februari 2018

Pelaksanaan Shalat

Pelaksanaan Shalat 

Alhamdulillah aku sempat shalat berjamaah di mesjid Namirah di komplek perumahan anak menantuku tinggal. Shalat subuh, zhuhur dan maghrib. Shalat di mesjid ini hampir rutin setiap hari selama di Balikpapan beberapa hari ini. Sempat pula shalat maghrib di mesjid Baitul Mubarak di belakang kantor Total di jalan Bunyu. Mesjid tempat aku dulu shalat rawatib sebelum pindah ke Jakarta, dua puluh lima tahun lebih yang lalu. Dan di mesjid Istiqamah dekat lapangan Merdeka. Mesjid pusat kegiatan Yayasan Ar Rahman.
 
Di ketiga mesjid itu jumlah jamaahnya lumayan banyak, lebih dari tiga shaf. Dengan ukuran shaf yang berbeda tentu saja. Di mesjid Namirah pernah sampai lima shaf di waktu subuh dan tujuh shaf di shalat maghrib. Di mesjid Baitul Mubarak kami shalat maghrib hari Sabtu sore, ada  empat shaf. Menurut menantu, di hari-hari kerja di saat shalat ashar jamaahnya yang terdiri dari karyawan Total (sekarang Pertamina Mahakam) bisa meluber sampai ke teras mesjid. Mesjid Istiqamah adalah yang paling besar. Kami shalat maghrib di sana tadi malam, ada empat shaf mungkin dengan hampir dua ratus jamaah.

Shalat di ketiga mesjid ini sangat berkesan karena dipimpin imam-imam yang sangat fasih dengan bacaan yang tartil. Aku merasa bahwa imam-imam tersebut (yang rata-rata masih muda) adalah para penghafal Al Quran. 

Ada kesamaan pelaksanaan shalat di ketiga mesjid ini. Imam tidak menjaharkan bacaan bismillah di awal Fatihah. Di mesjid Namirah tidak ada doa qunut di waktu shalat subuh. Tidak ada zikir dengan suara yang keras sesudah shalat. Pelaksanaan shalat seperti ini persis sama seperti yang kami lakukan di mesjid komplek kami di Jatibening. 

Dulu selama bertahun-tahun aku menjaharkan bacaan bismillah ketika mengimami shalat. Sampai suatu ketika, sesudah terlebih dahulu menjelaskan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik, yang mana beliau ini (Anas bin Malik) menyebutkan bahwa beliau shalat di belakang Rasulullah shallallahu 'alaihi  wa sallam, di belakang Abu Bakar, di belakang Umar bin Khaththab dan di belakang Utsman bin 'Affan, tidak satupun di antara beliau-beliau ini menjaharkan bacaan bismillah. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim. 

Sejak beberapa tahun yang lalu aku tidak lagi menjaharkan bacaan bismillah. Bukan karena latah, meniru-niru imam di Masjidil Haram atau di mesjid Nabawi, tapi karena mengimani hadits tersebut. Alhamdulillah, jamaah mesjid di komplek kami bisa menerimanya. 

****

Minggu, 11 Februari 2018

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun

Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun    

Sebuah berita mengejut aku terima pagi ini melalui WA tentang berpulangnya seorang rekan sekantor di Total yang usianya 2 - 3 tahun lebih muda dariku. Pak Y, seorang rekan kerja yang sangat gaul dan akrab dengan siapa saja. Itu kesan umumnya rekan-rekan sekantor. Kenapa mengejut? Karena tadi sebelum subuh dia masih mengirim ucapan salam melalui WA. Dengan pesan salam sehat.... Dan dia meninggal sekitar jam tujuh pagi tadi di kampungnya di Kelaten Jawa Tengah. Menurut informasi dia terjatuh di saat lari pagi dan meninggal tidak lama kemudian. 

Rekan Y ini seorang yang gemar berolahraga. Dia rajin melakukan latihan kebugaran dan lari pagi. Yang terakhir ini sepertinya rutin dikerjakannya setiap hari dan menurut informasi dari dia sendiri bisa sampai 10 km jarak tempuh. Ada yang menganggap olah raga yang dilakukannya itu terlalu berat untuk seseorang yang sudah lebih dari enampuluh tahun.

Dia pernah bercerita (waktu kami masih sama-sama aktif di kantor lebih sepuluh tahun yang lalu) bahwa dia harus rajin berolahraga untuk menurunkan kadar kolesterol di tubuhnya. Tanpa olahraga, meski sudah berusaha diet, kadar kolesterolnya cenderung tinggi. Dan kebiasaan berolahraga ini dipertahankannya sampai akhir hayatnya.

Itulah takdir yang berlaku kepada rekan Y. Kita memang tidak akan pernah tahu kapan, di mana dan dengan cara bagaimana kita akan dijemput malaikat maut. Maka seyogianyalah kita berhati-hati dan mempersiapkan diri menjelang datangnya hari H yang pasti akan mendatangi kita.

Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amal ibadahnya dan menempatkannya di tempat yang selamat di alam barzah.   Aamiin...    

Kamis, 08 Februari 2018

Balikpapan (lagi)

Balikpapan  (lagi) 

Sudah hampir empat tahun aku tidak berkunjung ke Balikpapan. Selama keluarga si Tengah di Perancis selama hampir tiga tahun sampai pertengahan tahun lalu, aku tidak pernah berkunjung ke kota ini. Tapi sejak keluarga ini pulang dari Perancis mereka kembali ke Balikpapan dan kami berkesempatan lagi untuk datang mengunjungi cucu. Sudah sejak beberapa bulan yang lalu kami ditantang untuk datang. Baru hari Rabu tanggal 7 Februari kemarin kesempatan itu bisa direalisasikan.

Surprise pertama yang kami temui adalah bandaranya yang besar dan sangat bagus, yang empat tahun yang lalu masih dalam tahap penyelesaian.  Aku sudah membaca informasi tentang kehebatan bandara baru ini tapi baru kali ini melihatnya. Sudah sangat moderen, rapi dan teratur. 

Kami (aku dan istri) dijemput oleh menantu, si Tengah serta kedua cucu (Hamizan dan Fathimah) dan langsung menuju ke rumah mereka di Balikpapan Baru. Mereka tidak lagi tinggal di rumah perusahaan. Meski baru beberapa pekan yang lalu kami berpisah dengan cucu-cucu ini, pertemuan dengan mereka selalu sangat menyenangkan.

Sore itu aku diajak menantu shalat berjamaah ke mesjid di luar komplek perumahan. Jaraknya mungkin sekitar satu kilometer dari rumah. Sebuah mesjid besar dan megah. Mesjid Namirah namanya. Jamaah shalat maghrib sangat ramai. Menurut menantuku setiap Rabu sore biasanya ada ta'lim di mesjid ini antara maghrib dan 'isya. Tapi kebetulan sore itu penceramahnya berhalangan hadir. 

Pelan-pelan aku menemukan apa yang diceritakan si Tengah bahwa Balikpapan sekarang berbeda (dalam arti kata), banyak sekali mesjid-mesjid yang ramai jamaahnya. Menantuku memperjelas keterangan itu dengan menyebutkan beberapa mesjid lain yang pernah dikunjunginya waktu shalat maghrib dengan jamaah yang banyak terdiri dari beberapa shaf. Waktu kami datang untuk shalat subuh hari Kamis pagi jamaah mesjid Namirah ini lebih 5 shaf, yang artinya lebih dari 150 orang jamaah. Sekitar dua puluh tahunan yang lalu aku hadir shalat subuh di mesjid Istiqamah, jamaahnya mungkin sekitar 40 - 50 orang saja dan rasanya itu sudah terhitung banyak ketika itu. 

Masih menurut si Tengah semangat menjalankan Islam dengan lebih baik juga sangat terlihat di Balikpapan. Banyak majelis-majelis pengajian di mana-mana dengan pengajian sunnah dan diikuti oleh banyak jamaah. 

Semoga cahaya Islam semakin bersinar di kota ini dan menjadi contoh kepada kota-kota lain di Indonesia.

****

Rabu, 07 Februari 2018

Khianat

Khianat

Khianat adalah sebuah cela. Pengkhianat adalah orang yang mencelakai secara pengecut dari belakang orang yang dikhianatinya. Dalam ungkapan orang Melayu pengkhianat dikatakan sebagai penggunting dalam lipatan, penuhuk kawan seiring. Berbeda dengan musuh, yang posisinya sejak awal jelas-jelas berseberangan, berhadap-hadapan, pengkhianat adalah mereka yang awalnya sebarisan. Dia seolah-olah teman seperjuangan tapi ternyata di tengah jalan dia berputar arah. 

Khianat adalah salah satu ciri orang munafik. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam  mengatakan tanda-tanda orang munafik itu ada tiga. Kalau berkata dia bohong. Kalau berjanji dia itu mungkir. Kalau diberi amanah dia itu khianat. Berkhianat sepertinya adalah puncak dari kejahatan orang munafik. Pengkhianat yang sangat terkenal di jaman Rasulullah adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, yang membawa pasukannya berbalik arah, pulang ke Madinah, ketika Rasulullah memimpin pasukan menghadapi perang Uhud.  

Kenapa orang berkhianat? Ada berbagai alasan. Karena kedengkian, karena keserakahan, karena dendam. Dengki melihat orang lain berhasil, dan ingin agar dia yang berhasil itu jatuh lalu dikhianati. Atau ingin menguasai harta orang lain dengan cara licik. 

Pengkhianat yang lebih berbahaya adalah dari mereka yang diberi kepercayaan. Mereka yang diamanahi untuk memimpin tapi justru berkhianat kepada yang memberi kepercayaan. Untuk apa? Untuk memperkaya diri. Atau untuk melanggengkan kekuasaan. Pengkhianatan itu dilakukan terang-terangan. Seseorang yang diamanahi untuk melayani masyarakat berbuat justru menyulitkan masyarakat. Atau seseorang yang diberi tanggung jawab untuk menjaga keadilan malahan merusak tatanan keadilan itu dengan memihak kepada yang bersalah. Semboyan yang berbunyi 'maju tak gentar membela yang benar' mereka ganti menjadi 'maju tak gentar membela yang bayar'

Banyak sekali kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di tengah masyarakat akibat perilaku para pengkhianat. Koruptor yang menyengsarakan rakyat bebas berkeliaran karena tidak tersentuh oleh hukum. Rakyat kecil yahg khilaf karena kelaparan dihukum dengan tegas. Hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, karena yang bertugas menegakkan hukum berkhianat.

**** 

Rabu, 31 Januari 2018

Grup WA (lagi)

Grup WA (lagi)       

Seseorang (entah siapa) bercerita tentang pengalamannya menjadi anggota grup WA di internet. Banyak dari grup itu mengikut-sertakan namanya tanpa diminta. Mungkin karena memang dia dikenal sebagian besar anggota grup atau memang pantas-pantas saja dia diajak ikut jadi anggota. Hanya, yang dikemukakannya adalah postingan-postingan para anggota yang terpaksa didiamkannya saja karena bagi dia tidak ada menariknya untuk ditanggapi. 

Akupun rasa-rasanya punya pengalaman yang sangat mirip. Jadi anggota grup ex teman seangkatan sejurusan (waktu kuliah), grup teman seangkatan yang lebih luas, grup teman sekampung, grup pengajian, grup ex teman sekantor dan sebagainya.

Di setiap grup itu aku mungkin yang paling hemat berkomentar atau mengirim postingan. Karena sebagian besar isinya adalah ucapan selamat pagi (setiap pagi, di balas oleh puluhan anggota lain), ucapan selamat ulang tahun. Bahkan ada juga ucapan selamat menjalankan shalat tahajud, selamat shalat subuh, selamat sahur untuk puasa Senin Kamis..... Entah apa maksudnya. Biasanya satu orang memulai dengan ucapan selamat (apa saja) yang lain berlomba-lomba membalas.

Atau ada lagi yang isinya saling ledek-ledekan  (di usia yang rata-rata sudah tua ini). Mungkin maksudnya bercanda, tapi isinya, sepertinya kadang-kadang sudah tidak elok dibaca. 

Dan ada juga yang rajin mengirim foto-foto lucah (sekali lagi di usia  yang sudah sepuh ini). Pernah aku keluar dari grup yang seperti ini, tapi nanti dimasukkan lagi oleh admin grup. 

Atau yang mengirim foto dan video apa saja. Foto selfie mereka yang entah dimana dan entah apa keperluannya dikirim ke grup....  Maka membuang foto-foto atau video-video yang tidak jelas ini harus sering-sering dilakukan. Karena kadang-kadang cucu suka pula memain-mainkan hapeku. 

Tapi ada juga yang rajin mengirim ceramah-ceramah agama meskipun sebagian besar hasil kopian dari grup lain. 

Jadi begitulah suka duka pengalaman menjadi anggota grup WA,

****       

Selasa, 23 Januari 2018

Penilaian Atas Tempat Makan Di Luar

Penilaian Atas Tempat Makan Di Luar

Sekali-sekali kami pergi jugalah makan keluar. Mulai dari ke restoran atau ke warung-warung sederhana yang direkomendasi oleh..... katakan saja oleh Google. Untuk aneka jenis masakan, tidak melulu masakan Padang. Dan setelah mengunjungi tempat-tempat itu biasanya kami membuat kesimpulan. Ada yang enak, yang kita ingin lagi datang kapan-kapan sesudah itu, ada yang biasa-biasa saja, ada yang kurang atau bahkan tidak memuaskan. Untuk masing-masingnya itu kami mempunyai kode tersendiri.

Yang enak dan memuaskan kita juluki 'masakan kemenakan ayah'. Waktu almarhum ayah mertua masih hidup, beliau sangat menyukai ketupat sayur di sebuah pondok sarapan pagi di jalan Pondok Kelapa. Warung yang kami kenal sejak baru pindah ke Jatibening dan masih bertahan sampai sekarang. Kalau istriku pulang dari mengantarkan aku ke kantor, begitu sampai di rumah ayahnya bertanya, singgahkah kamu tadi di tempat kemenakanku? Ini artinya, apakah kamu mampir membelikan ketupat sayur? Meskipun hanya ketupat sayur, yang ini memang istimewa.

Ada sebuah rumah makan Padang di jalan DI Panjaitan (Cawang) yang dapat predikat masakan kemenakan ayah ini. Sayang rumah makan ini sepertinya kena gusur akibat pembangunan jalan tol Becakayu.

Tempat makan yang dapat predikat masakan kemenakan ayah, biasanya cukup sering dikunjungi. Terjadi juga kadang-kadang rasa masakannya agak meleset dari biasanya. Penyebabnya adalah karena jurumasak yang biasa berhalangan dan digantikan oleh pembantunya. Kami lalu menyebutnya bahwa makanannya sebagai masakan KW2. Kalau masakan KW2 ini ditemukan lebih dari satu kali, alamat kami tidak akan mengunjunginya lagi sesudah itu. Beberapa tahun yang lalu kami mampir di kedai sate terkenal di Padangpanjang. Menurut penilaian kami terjadi penurunan citarasa menjadi KW2 di sana. 

Kalau makanan yang kami santap di sebuah tempat rasanya biasa-biasa saja, tidak terlalu enak meski juga tidak terlalu buruk, kami menyebut nilainya sebagai 'menengah'. Bisa saja kami mengulangi lagi untuk datang tapi jelas bukan dalam waktu dekat.

Lalu kalau rasa masakan itu tidak cocok sama sekali dengan selera kami, tempat makan itu kami juluki 'tidak ada duanya'. Artinya tidak akan ada kunjungan kedua kali ke tempat itu. 

****