Rabu, 18 Januari 2017

Puisi Taufik Ismail "KAMI MUAK DAN BOSAN"

“KAMI MUAK DAN BOSAN”
*(Taufik Ismail)*


Dahulu di abad-abad yang silam:
Negeri ini pendulunya begitu ras serasi dalam kedamaian
Alamnya indah,gunung dan sungainya rukun berdampingan,
pemimpinnya jujur dan ikhlas memperjuangkan kemerdekaan
Ciri utama yang tampak adalah kesederhanaan
Hubungan kemanusiaanya adalah kesantunan
Dan kesetiakawanan
Semuanya ini fondasinya adalah
Keimanan

Tapi,
Kini negeri ini berubah jadi negeri copet, maling dan rampok,
Bandit, makelar, pemeras, pencoleng, dan penipu
Negeri penyogok dan koruptor,
Negeri yang banyak omong,
Penuh fitnah kotor
Begitu banyak pembohong
Tanpa malu mengaku berdemokrasi
Padahal dibenak mereka mutlak dominasi uang dan materi
Tukang dusta, jago intrik dan ingkar janji

Kini
Mobil, tanah, deposito, dinasti, relasi dan kepangkatan,
Politik ideologi dan kekuasaan disembah sebagai Tuhan
Ketika dominasi materi menggantikan tuhan

Kini
Negeri kita
penuh dengan wong edan, gendeng, dan sinting
Negeri padat, jelma, gelo, garelo, kurang ilo, manusia gila
kronis, motologis, secara klinis nyaris sempurna, infausta

Jika penjahat-penjahat ini
Dibawa didepan meja pengadilan
Apa betul mereka akan mendapat sebenar-benar hukuman
Atau sandiwara tipu-tipuan terus-terus diulang dimainkan
Divonis juga tapi diringan-ringankan
Bahkan berpuluh-puluh dibebaskan
Lantas yang berhasil mengelak dari pengadilan
Lari keluar negeri dibiarkan
Dan semuanya itu tergantung pada besar kecilnya uang sogokan

Di Republik Rakyat Cina,
Koruptor
Dipotong kepala
Di kerajaan arab saudi,
Koruptor
Dipotong tangan
Di Indonesia,
Koruptor
Dipotong masa tahanan

Kemudian berhanyutanlah nilai-nilai luhur luar biasa tingginya
Nilai Keimanan, kejujuran, rasa malu, kerja keras, tenggang rasa, pengorbanan,
Tanggung jawab, ketertiban, pengendalian diri,
Remuk berkeping-keping
Akhlak bangsa remuk berkeping-keping
Dari barat sampai ke timur
Berjajar dusta-dusta itulah kini Indonesia
Sogok Menyogok menjadi satu,
Itulah tanah air kita Indonesia

Kami muak dan bosan
Muak dan bosan
Kami
Sudah lama
Kehilangan kepercayaan


****

Sabtu, 14 Januari 2017

Iman, Anugerah Allah Yang Tidak Ternilai Harganya

Iman, Anugerah Allah Yang Tidak Ternilai Harganya    

Itulah topik pengajian kami dengan ustad Rahmat Abu Bakar pagi ini di mesjid komplek. Sering kita mendengar kata-kata yang sama diungkapkan para khatib atau ustadz, tapi mungkin kita tidak terlalu dalam memahaminya. Pengajian tadi subuh di awali dengan mengutip firman Allah dalam surah At Taubah ayat 111 yang artinya; 

'Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.'   

Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman diri dan harta mereka, ditukar dengan surga. Demikian itulah janji Allah. Hanya orang-orang yang beriman saja yang akan mendapatkan ganjaran surga dari Allah. Sementara orang-orang yang tidak beriman, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka dan mereka kekal di dalamnya. Mereka tidak dapat menebus hukuman mereka dengan apapun seperti dijelaskan Allah dalam firman-Nya pada surah Ali Imran ayat 91 dan surah Al Maidah ayat 36;

'Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, maka tidaklah akan diterima dari seseorang diantara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu. Bagi mereka itulah siksa yang pedih dan sekali-kali mereka tidak memperoleh penolong.' (Ali Imran 191).

Sesungguhnya orang-orang yang kafir sekiranya mereka mempunyai apa yang dibumi ini seluruhnya dan mempunyai yang sebanyak itu (pula) untuk menebusi diri mereka dengan itu dari azab hari kiamat, niscaya (tebusan itu) tidak akan diterima dari mereka, dan mereka beroleh azab yang pedih. (Al Maidah 36).

Bahkan seandainya penghuni neraka ingin menebus hukuman mereka dengan mengorbankan sanak famili atau penduduk bumi seluruhnya, tetap tidak akan dapat mereka keluar dari siksaan seperti firman Allah dalam sura Al Maarij ayat 11 - 15;
 
70:11  Sedang mereka saling melihat. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya.
70:12. Dan istrinya dan saudaranya,
70:13. Dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia).
70:14. Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya, kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya.
70:15. Sekali-kali tidak dapat. Sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak,

Mudah-mudahan kita faham tentang betapa tidak terhingga besarnya nilai iman dan betapa besarnya ancaman Allah terhadap mereka-mereka yang tidak beriman.  Dan mudah-mudahan kita sanggup mempertahankan keimanan itu sampai akhir hayat kita. Aamiin.   

****  .

Minggu, 08 Januari 2017

Memperbaiki Tajwij Melalui WA

Memperbaiki Tajwij Melalui WA

Banyak hal-hal baik yang dapat dilakukan dengan whatsapp. Termasuk di antaranya mengaji bergiliran atau mentadarus al Quran bergantian melalui gadget dan merekamnya lalu dikirimkan untuk didengarkan oleh anggota grup. Ada grup orang sekampung kami (yang sebagian besar tinggal di perantauan), lalu ada yang memulai mengirimkan bacaan al Quran untuk disimak. Yang lain mulai ikut. Akhirnya terkumpul beberapa orang dan mereka bersepakat untuk melakukan pembacaan al Quran itu secara berkesinambungan. Masing-masing membaca dua atau tiga ayat. 

Mula-mula aku hanya mendengarkan saja bacaan-bacaan para dunsanak tersebut. Ternyata banyak yang tidak fasih. Tidak tepat panjang pendek bacaan, tertukar huruf yang satu dengan huruf yang lain, tidak mengerti kaidah tajwij dan sebagainya. Kita tahu bahwa huruf hijaiyah (huruf al Quran) itu banyak yang mirip kalau dibandingkan dengan huruf latin yang kita kenal. Misalnya ada dal (d) dengan dhad (dh), ada ta (t) dengan tha (th), sin (s) dengan syin (sy) dengan shad (sh) bahkan dengan tsa (ts). Ada qaf (q) dengan kaf (k) dan sebagainya. Lidah kita yang sudah terbiasa mengucapkan sarat (bukan syarat) atau mengatakan serikat (bukan syerikat) atau mengatakan wuduk (bukan wudhuk) bahkan mengatakan izin jadi ijin atau rezeki jadi rejeki, cenderung untuk keliru dalam melafadzkan huruf-huruf al Quran. 

Aku mencoba membetulkan bacaan dari satu dua orang. Alhamdulillah, mereka menghargai pembetulan dan meminta agar aku mengoreksi bacaan-bacaan berikutnya. Akhirnya kami membuat grup sendiri untuk peserta tadarus, begitu kami menyebutnya. Ada sekitar dua puluhan orang dalam grup ini tapi yang benar-benar aktif kurang dari separonya. Ada yang sudah sangat fasih bacaannya, ada yang masih perlu banyak dikoreksi. Alhamdulillah dengan melakukan tadarus ini setiap hari, terlihat kemajuan pada yang tadinya masih tertatih-tatih bacaannya.   

Di mesjid komplek perumahan kami, ada lima enam orang bapak-bapak yang biasa melakukan tadarus pula setiap malam Jum'at. Kegiatan ini sudah kami lakukan cukup lama. Tujuannya mula-mula adalah untuk memperbaiki bacaan bapak-bapak tersebut yang juga agak banyak kelirunya. Perbaikan bacaan di kalangan bapak-bapak ini kurang efektif. Pertama karena beliau-beliau ini memasang target jumlah yang dibaca (harus satu 'ain). Yang kedua terlalu banyak yang harus dikoreksi dan kalau semua dibetulkan umumnya menimbulkan ketidak nyamanan bagi yang membaca. Yang ketiga waktunya hanya sekali seminggu. 

Aku menawarkan tadarus melalui WA pula kepada bapak-bapak tersebut, persis seperti yang kami lakukan di grup, karena kami juga punya grup jamaah masjid. Sayang sementara ini belum ada tanggapan.  

**** 

Sabtu, 31 Desember 2016

Kemana Di Malam Pergantian Tahun?

Kemana Di Malam Pergantian Tahun?  

Kemana aku di malam pergantian tahun di sepanjang hidupku? Hampir di semua saat pergantian tahun itu aku tidur pulas di tempat tidur. Kecuali satu kali, ketika aku terjebak oleh undangan ulang tahun seorang rekan sekantor. Kejadian tersebut di tahun 1980an di Balikpapan. Ketika aku dan teman-teman diundang ke pesta seorang senior di kantor. Meski pada awalnya aku menolak, hanya dengan alasan aku lebih memilih untuk tidur awal seperti biasanya, namun akhirnya luluh juga oleh rayuan pertemanan.

Sampai ketika masih di SMP di kampung, dilanjutkan lagi masa di SMA, terus waktu kuliah di Bandung aku tidak pernah hirau dengan malam tahun baru. Tidak pernah merasa perlu membuat kegiatan khusus atau pergi menghadiri acara khusus. Aku tidur pada waktunya meski kadang-kadang terbangun dan terusik juga oleh gemuruhnya suara mercon. 

Ada pula yang mengajak untuk beribadah khusus (shalat malam di mesjid) pada malam pergantian tahun. Sama saja, aku juga tidak tertarik. Kalau mau shalat malam, ya shalat malam saja tanpa perlu dihubung-hubungkan dengan acara pergantian tahun. Meski yang mengajak mengatakan dari pada melewatkan malam tahun baru di hotel-hotel atau di tempat-tempat hiburan yang tarifnya mencengangkan. Kalau alasannya itu, jelas tidak kena mengena denganku, karena akupun tidak melewatkan malam itu di hotel.

Di tingkat yang paling sederhana di lingkungan RT, ada juga yang menyengaja bertanggang (begadang) di malam pergantian tahun. Mereka buat acara kumpul-kumpul sambil makan-makan, dengan membakar ikan misalnya. Pokoknya mereka berusaha membuat malam itu beda dari malam-malam lain. Dan aku ditanya, kenapa nggak ikut? Jawabku, karena tidak berminat.   

Ada orang yang merasa perlu benar menandai pergantian tahun itu dalam kehidupannya dengan acara yang dibuat-buat. Hotel-hotel dan restoran-restoran terkenal mengiklankan acara pergantian tahun dengan pertunjukan istimewa, hiburan oleh artis istimewa, dengan hidangan istimewa. Tentu saja dengan biaya yang istimewa pula mahalnya. Ada orang-orang berduit yang tidak segan-segan membayar acara serba istimewa itu. Tapi aku tidak pernah bisa memahami, kenikmatan apa yang mereka peroleh. Itu kan selera masing-masing orang, kata seorang temanku. Aku yakin dia benar. 

Dan ini kutulis sebelum tidur sebentar lagi. Kalau Allah mengizinkan aku untuk terbangun besok subuh, maka kita sudah berada di tahun baru 2017. 

****                   

Kamis, 29 Desember 2016

Dibuai Perjalanan Waktu

Dibuai Perjalanan Waktu  

Beberapa puluh jam lagi kita akan melewati pergantian tahun. Tahun 2016 akan segera berakhir dan kita akan memasuki tahun baru 2017. Biasanya, sebahagian dari kita akan menggumam, 'cepatnya waktu berlalu' ketika melalui saat-saat seperti ini.  Karena memang demikian adanya. Waktu aku masih aktif bekerja, terasa benar cepatnya waktu demi waktu itu berlalu. Setiap kita memulai awal pekan di hari Senin, lalu kemudian menutup pekan di hari Jum'at, sering kita mendengar ocehan rekan sekantor, 'sudah  Jum'at lagi'. Selalu saja begitu.

Dulu aku merasa bahwa sesudah pensiun hari-hariku akan lebih panjang. Ternyata tidak. Aku selalu menyadari bahwa hari-hari itu berlalu dengan sangat cepat. Sejak bangun sebelum subuh sampai tidur lagi sekitar jam sepuluh malam, tertidur lalu terbangun lagi di waktu subuh. Hari demi hari berulang dengan rithme yang sama. Dan terasa sangat cepat. 

Sering aku menoleh jauh ke belakang, terutama ketika ingat atau melihat kenangan beberapa tahun yang lalu. Ketika melihat foto atau membaca catatan lama. Dan langsung terkesima ketika menyadari bahwa kejadian itu telah berlalu puluhan tahun. Kemarin misalnya ada kemenakan yang memposting foto tahun 1994. Anakku berkomentar bahwa aku masih terlihat 'segeh' waktu itu. Ya iyalah, karena foto itu diambil ketika aku 'baru' berumur 43 tahun. 

Lalu apa yang terpikirkan ketika tersentak dalam mengamati pergeseran waktu itu? Bagiku yang teringat adalah umur yang tersisa. Aku semakin dekat ke garis finish. Ke penghujung kehidupan ini. Berapa lagi yang tersisa hanya Allah saja yang tahu. Peringatan itu lebih menyentak lagi ketika aku ikut mengantarkan jenazah ke pekuburan seperti yang aku lakukan kemarin. Gilirankupun pasti akan sampai.   

Takut dan cemas menghantui pikiranku kalau teringat akan kematian. Karena bekalku yang sangat sedikit untuk menghadap Allah. Bagaimana aku akan menjawab setiap soal mengenai petualangan kehidupanku di hadapan pengadilan Allah nanti.  

Ya Allah! Matikanlah aku pada waktunya dalam keadaan husnul khaatimah..... Aamiin.

****            

Jumat, 23 Desember 2016

Cerita Tentang Obat Alternatif

Cerita Tentang Obat Alternatif  

Melalui media FB ataupun WA ataupun media lain tempat berbagi informasi, sangat banyak berseliweran cerita tentang obat alternatif. Meski sepertinya sebagian besar dari cerita atau berita itu merupakan copy/paste dari sumber lain. Banyak sekali jenisnya dan untuk berbagai macam penyakit. Seperti obat sakit gula (diabetes), asam urat, gangguan ginjal, bahkan berbagai jenis kanker. Rata-rata bercerita tentang obat yang sangat manjur yang mampu menyembuhkan penyakit dalam waktu sangat singkat. Biasanya pula obat-obat seperti ini berbahan dasar tumbuh-tumbuhan atau buah-buahan.

Sejauh mana keampuhannya? Wallahu a'lam. Akupun pernah tergoda untuk mencobanya. Aku mengidap penyakit asam urat sudah sejak lama. Ada yang menginformasikan obat asam urat dengan nenas + lobak cina diblender dan diminum airnya.Ternyata tidak berpengaruh apa-apa.  Lalu ada yang berkomentar bahwa obat itu memang cocok-cocokan. Untuk sebagian orang dia manjur tapi tidak untuk sebagian yang lain. Ada teman lain yang mencoba obat yang sama ternyata malahan terganggu oleh kambuhnya sakit mag akibat meminum air nenas itu. 

Aku biasa mencoba obat-obat alternatif untuk penyakit asam uratku karena obat dokter memberikan efek samping. Meminum obat dokter (alupurinol) selama tiga hari berturut-turut menyebabkan timbul sariawan sangat serius di mulut. Asam uratnya tidak teratasi, penyakit lain muncul.

Seorang teman (dokter) memberi nasihat untuk tetap berhati-hati dalam mencoba obat-obat alternatif itu karena biasanya belum ada bukti ilmiah tentang kemanjurannya. Nasihat ini mungkin cukup bijak. Aku setuju sekali dengan nasihat ini. 

Terakhir aku membaca postingan seseorang di WA tentang pernyataan seorang dokter yang mengobati penyakit gulanya dengan meminum minyak zaitun. Menurut cerita tersebut dia berhasil menurunkan kadar gula darahnya dengan meminum 2 sendok makan minyak zaitun selama tiga hari berturut-turut.

Kita tentu sangat boleh berikhtiar mencoba obat dalam mengatasi penyakit. Karena setiap penyakit telah Allah sediakan obatnya. Namun perlu kita ingat bahwa obat hanyalah sekedar usaha untuk mencari kesembuhan sementara kesembuhan itu sendiri ada di tangan Allah Yang Maha Kuasa. 


****
                             

Rabu, 21 Desember 2016

Tentang Buku Karanganku Itu Lagi

Tentang Buku Karanganku Itu Lagi         

Beberapa orang yang membaca buku karanganku memberikan apresiasi. Sepertinya ada yang agak berlebihan, entahlah.  Ada yang bertanya apakah buku Derai-derai Cinta itu pengalaman pribadiku? Aku jawab tidak, itu hanya karangan. Apakah cerita tentang bencana banjir bandang atau galodo dalam cerita itu juga karangan? Aku bilang, tidak. Galodo itu memang pernah terjadi. Lalu apakah tokoh yang ada dalam cerita yang mengalami peristiwa galodo itu benaran? Kujawab lagi tidak. Dia agak bingung. Jadi bagaimana sebenarnya, tanyanya pula. Ya itulah sebenarnya, cerita yang dikarang di atas sebuah realitas. Dengan latar belakang sebuah kejadian. Tapi kandungan utamanya adalah fiktif. Kata yang bertanya pula, cerita itu benar-benar seperti kejadian nyata.....

Begitu juga halnya dengan cerita Anak Manusia Korban Politik. Orang lain lagi yang bertanya. Apakah isi cerita itu benar-benar kejadian? Jawabannya juga tidak. Apakah itu berdasarkan pengalaman seseorang yang sangat anda kenal, tanyanya pula. Tidak juga.  Tapi alur cerita seperti itu memang ada di tengah masyarakat kita, dan membacanya seperti kita menyimak laporan kejadian sebenarnya. Ya, syukurlah kalau demikian, jawabku pula. Bagaimanapun itu hanya sebuah karangan alias fiktif.

Cerita-cerita pendek dalam buku Pulang Kampung itu semua juga fiktif?  Ya, semua fiktif. Semua hanya karangan. Banyak dari cerita pendek itu bernuansa jadul. Bernuansa cerita jaman dulu.

Seorang kakak sepupuku mengomentari bahwa bahasa dalam cerita-cerita itu terlalu keminang-minangan. Aku jawab, memang iya. Itu memang disengaja.

Lalu ada lagi pertanyaan anakku. Apa sih motifasinya mempublikasikan buku-bukuku itu? Ya ingin berbagi cerita saja dengan orang-orang yang berminat membacanya. Aku merasa bahwa karanganku itu layak untuk dibaca dan aku ingin orang lain membacanya. Kenapa  dicetak sedikit saja. Aku bilang yang sedikit itu saja juga masih tersisa. Berarti tidak laku dong, kata anakku. Bagaimana sih cara mempublikasikannya? Memang, tidak seberapa laku, jawabku. Caranya hanya sekedar menginformasikan melalui facebook, lalu direspons oleh beberapa orang teman. Mereka pesan, lalu bukunya dikirim dengan Tiki. Kenapa tidak diiklankan, tanya anakku lagi.  Aku tidak merasa perlu mengiklankannya. 

Dan memang begitulah adanya. Hari ini kebetulan ada lagi yang memesannya, teman dari seseorang yang sudah lebih dulu membacanya.

****